IHSG dan Imbal Hasil Tertinggi di Asia

Ulasan Sepekan

IHSG dan Imbal Hasil Tertinggi di Asia

- detikFinance
Senin, 18 Okt 2010 07:33 WIB
Jakarta - IHSG minggu lalu kembali ditutup menguat bila dibandingkan dengan perdagangan pekan sebelumnya, IHSG tercatat ditutup pada level 3597,03 atau menguat 1,41% selama perdagangan pekan lalu.

Kondisi tersebut tidak diikuti oleh Rupiah yang selama pekan lalu diperdagangkan lebih stabil. Nilai tengah rupiah BI akhir pekan lalu ditutup pada level 9823 atau melemah 1 pips dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Kondisi tersebut tidak lepas dari upaya keras BI yang terus menjaga agar rupiah tidak menguat terlalu cepat.

"Derasnya arus modal asing ke pasar dalam negeri sejauh ini telah menciptakan euforia di pasar finansial Indonesia," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (18/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fikri menambahkan, sejak pertengahan tahun ini telah terjadi pergeseran dana investor secara fundamental dari negara maju (Amerika dan Eropa) ke negara berkembang. Derasnya aliran modal investor dari Amerika dan Eropa tersebut terjadi karena saat ini suku bunga USD dan EURO masih sangat rendah padahal kondisi ekonomi dunia perlahan sudah mulai pulih sehingga investor tersebut mengalihkan investasi mereka ke pasar financial di negara yang pertumbuhan ekonominya pesat dengan tingkat suku bunga yang tinggi, dan Indonesia mencerminkan kondisi negara tujuan investor tersebut.

Ia menjelaskan, derasnya hot money yang masuk ke pasar finansial Indonesia tersebut terbagi dalam tiga instumen yaitu SUN, SBI, dan saham. Sebanyak 18% atau Rp 20 Triliun dari hot money tersebut membanjiri pasar saham Indonesia dalam 4 bulan terakhir.

"Kondisi tersebut pada akhirnya memicu kenaikan yang signifikan terhadap IHSG dan menjadikan bursa Indonesia sebagai bursa dengan imbal hasil tertinggi di Asia," urai Fikri.

Sejauh ini, lanjut dia, banyak analis yang percaya derasnya hot money harus diwaspadai terlebih dalam situasi perekonomian global yang masih belum menentu, karena penarikan dana (capital outflow) secara tiba-tiba dalam jumlah masif bisa terjadi kapan saja seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008 lalu. Namun demikian capital outflow secara besar-besaran tidak akan terjadi tanpa adanya sentimen pasar yang mendorongnya.

Dalam hal ini terdapat beberapa hal yang dapat mendorong sentimen pasar berbalik tajam: Pertama, jika pemerintah Yunani kembali menunggak utangnya sehingga akan memicu krisis finansial di Eropa dan dipercaya mampu membalikkan sentimen positif investor global atas negara berkembang selama ini.

Yang kedua, adalah kekhawatiran terus turunnya rating hutang negara-negara besar di Eropa terutama yang tergabungdalam PIGS (Portugal, Italia, Greece dan Spanyol) akibat besarnya beban utang negara-negara tersebut terhadap PDB nya. Kondisi negara tersebut dikhawatirkan dapat memicu krisis hutang eropa.

Yang ketiga, adalah sentimen perang mata uang yang terjadi antara Amerika dan China, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berdampak terhadap daya saing produk dari masing-masing negara dan perlu diketahui bahwa produk kedua negara tersebut mengusai pasar dunia. Sejauh ini daya saing produk Amerika terus turun dibandingkan produk china dan membuat beberapa produk Amerika tidak laku dipasaran karena berharga lebih mahal, sehingga dikhawatirkan apabila hal ini terus terjadi maka kondisi manufaktur amerika kembali akan jatuh dan mempengaruhi kondisi ekonomi Amerika yang pada akhirnya akan membalikkan sentimen positif investor terhadap upaya pemulihan ekonomi dunia.

"Bila mengabaikan kekhawatiran diatas, trend bullish IHSG masih akan terus berlanjut hingga beberapa waktu kedepan, bahkan IHSG diprediksi masih mampu menembus level 3700 sebelum akhir tahun," demikian prediksi Fikri.

Hal ini didorong oleh kondisi investor Amerika dan Eropa yang saat ini terus kebanjiran likuiditas karena bank sentral Amerika dan Eropa tengah gencar mencetak uang baru sebagai bagian dari kebijakan bank sentral negara tersebut untuk melakukan pembelian besar-besaran terhadap surat utangnya.

"Namun demikian ditengah euforia kenaikan IHSG tersebut investor harus peka dan bersiap-siap terhadap berbagai kabar yang dapat membalikkan sentimen pasar yang dapat datang kapan saja," imbuh Fikri.
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads