Tampung Dana Asing, Agus Marto Dorong BUMN IPO

Tampung Dana Asing, Agus Marto Dorong BUMN IPO

- detikFinance
Senin, 18 Okt 2010 16:22 WIB
Jakarta - Saat ini arus dana asing ke Indonesia sangat deras, terutama ke sektor finansial. Menangkap peluang ini, pemerintah mendorong BUMN untuk segera melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO (Initial Public Offering) ke pasar modal.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo ketika ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/10/2010).

"Ya. Kan kita ada rencana 2 untuk IPO, yaitu Krakatau Steel dan Garuda. Diskusi dengan Menteri BUMN, akan ada tambahan 7 lagi yang akan IPO. Kalau seandainya market pada saat sekarang ini lagi bagus, tentu baik sekali kalau seandainya ada lebih banyak perusahaan BUMN yang bisa listed," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Besarnya dana asing di sektor keuangan ini memang harus diimbangi dengan suplai instrumen-instrumen yang memadai. Agar dana tersebut terakomodir dan tidak menimbulkan gelembung atau bubble ekonomi.

Saat ini, porsi kepemilikan asing atas Surat Utang Negara (SUN) rupiah yang diperdagangkan hingga akhir Juni 2010 mencapai Rp 162,5 triliun atau sebanyak 26,09% dari total SUN. Arus modal asing yang masuk sepanjang bulan Juni mencapai Rp 17,96 triliun.

Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, banyaknya dana asing yang masuk ke Indonesia menunjukkan membaiknya fundamental perekonomian Indonesia sehingga menarik minat dan dana investor asing.

"Kita perlu tetap berupaya agar dana asing tersebut bisa berada di Indonesia dalam jangka waktu yang lebih lama," kata Agus.

Agus mengharapkan, para investor domestik seperti perusahaan asuransi, dana pensiun, reksa dana, bank, perusahaan maupun investor individu dan ritel juga mampu berperan menjadi penyeimbang derasnya arus dana asing yang masuk ke Indonesia.

"Dengan demikian stabilitas pasar keuangan domestik dapat terjaga dengan baik," ujarnya.

Ia mengatakan, sejalan dengan strategi pemerintah untuk mengutamakan sumber pembiayaan dalam negeri, termasuk penerbitan SBN rupiah di pasar domestik.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads