Setidaknya itulah hasil penelitian para peneliti di Indiana University-Bloomington's School of Informatics and Computing. Mereka menganalisa lebih dari 9,8 juta 'tweets' dari 2,7 juta pengguna layanan micro-blogging selama 10 bulan pada tahun 2008.
Mereka menghitung 'mood publik yang kolektif' melalui tweets dan kemudian membandingkannya dengna nilai saham pada penutupan perdagangan. Hasilnya, mereka menemukan hubungan antara nilai indeks Dow Jones dan sentimen publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi sebelumnya menemukan adanya hubungan antara trafik twitter dan kegagalan ataupun kesuksesan film box office. Namun studi dari Universitas Indiana diyakini merupakan sturi pertama yang mengkaitkan Twitter dengan Wall Street.
Universitas Indiana menyatakan, para peneliti menggunakan dua alat yakni OpinionFinder dan Google's Profile of Mood States (GPOMS) untuk menganalisa isi dari pesan Twitter. Para peneliti kemudian membandingkan mood publik itu dengan nilai penutupan indeks Dow Jones.
Bollen mengatakan, indeks ketenangan terlihat menjadi prediktor yang baik untuk melihat apakan indeks Dow Jones naik atau turun dalam 2 atau 6 hari kemudian. Ia menambahkan, mood publik yang diekspresikan di Twitter yang diposting oleh jutaan orang dalam basis harian berfluktuasi dalam beberapa waktu.
"Fluktuasi itu, paling tidak salah satu indikator yang kita monitor --disebut mood, ketenangan vs kepanikan -- sebenarnya berhubungan dengan nilai indeks Dow Jones Industrial Average," ujarnya.
"Ini cukup mengejutkan bagi kami karena kami berpikir mood akan mengikuti indeks Dow Jones, dalam pengertian jika Dow Jones naik, orang-orang gembira, jika ia turun orang-orang sedih. Tapi ternyata terbalik bahwa pergerakan mood publik secara nyata mendahului 3-4 hari sebelum pergerakan kenaikan atau penurunan indeks Dow Jones," imbuhnya.
(qom/qom)











































