Demikian disampaikan dalam siaran pers perseroan, Kamis (21/10/2010).
Hingga triwulan III-2010, ISAT mencatat pendapatan sebesar Rp 14,843 triliun, naik 8,1% dari periode yang sama tahun 2009 sebesar Rp 13,732 triliun. Pendapatan dari seluler meningkat 16,6% menjadi Rp 11,914 triliun dari sebelumnya Rp 10,217 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun marjin EBITDA hanya naik tipis 1,9% menjadi 80% dari sebelumnya 46,1%. Sedangkan laba bersih menurun tajam 63,4% menjadi Rp 530,9 miliar dari sebelumnya Rp 1,449 triliun.
Menurut Direktur Utama ISAT Harry Sasongko, penurunan itu disebabkan gejolak penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membuat perseroan mengalami pembengkakan beban keuangan. Penguatan rupiah telah menyebabkan posisi utang ISAT meningkat 11,8% menjadi Rp 27,308 triliun dari sebelumnya Rp 24,418 triliun.
Sebagai catatan, ISAT memiliki utang berdenominasi dolar AS dalam jumlah yang cukup besar. Meskipun perseroan telah berupaya mengurangi porsi utang dolar, namun laju penguatan rupiah sangat cepat membuat rasio utang membengkak.
Beberapa waktu lalu, perseroan telah melakukan pembiayaan kembali (refinancing) obligasi senilai US$ 650 juta dengan bunga 7,375% berjangka waktu 10 tahun.
Belanja modal (capital expenditure/capex) ISAT per triwulan III-2010 sebesar Rp 4,339 triliun, turun 54,1% dari sebelumnya Rp 9,457 triliun. Jumlah pelanggan seluler meningkat tajam 40,9% menjadi 39,7 juta pelanggan dari sebelumnya 28,2 juta pelanggan.
Sementara Qatar Telecom (Qtel), induk usaha ISAT, mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 14,4% menjadi US$ 20,011 miliar dari sebelumnya US$ 17,484 miliar. Laba Qtel naik tipis 3,7% menjadi US$ 2,348 miliar dari sebelumnya US$ 2,435 miliar.
Total jumlah pelanggan Qtel secara konsolidasi mencapai 68,9 juta pelanggan, naik 30,6% dari sebelumnya 52,8 juta. Peningkatan kinerja Qtel terutama disokong oleh kenaikan pendapatan dan jumlah pelanggan ISAT.
Â
Â
(dro/qom)










































