BI Tak Mau Rupiah Terlalu Kuat

BI Tak Mau Rupiah Terlalu Kuat

- detikFinance
Jumat, 22 Okt 2010 18:03 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui terus melakukan intervensi untuk menjaga nilai rupiah tidak terlalu kuat, akibat derasnya aliran modal masuk (capital inflow). Melalui intervensi, maka penguatan nilai tukar rupiah dapat terjaga dan tidak secepat negara lain.

"Artinya kita melakukan, katakanlah intervensi agar rupiah tidak terlalu kuat," ujar Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah di sela acara Seminar Internasional Bank Indonesia di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat (22/10/2010).

Menurut Halim, selama ini kebijakan yang diambil bank sentral tersebut cukup dinilai berhasil mengendalikan penguatan yang tidak terlalu kencang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data-data menunjukan bahwa penguatan kita tidak secepat beberapa negara yang lain. Jadi penguatan itu terjadi pada seluruh mata uang di kawasan Asia maupun pada beberapa negara berkembang yang kedatangan arus modal masuk," ungkapnya.

Halim mengakui, dengan adanya penguatan rupiah ada beberapa sektor yang terkena imbas negatifnya khususnya para eksportir. Namun menurut Halim ada juga sektor yang diuntungkan seperti importir.

"Sangat diuntungkan karena dia banyak mengimpor, produk-produk seperti mesin bahan baku yang tentu lebih murah sehingga daya saing juga akan dalam konteks ini menjadi lebih baik," ungkapnya.

Lebih lanjut Halim mengatakan, nilai tukar rupiah saat ini menunjukkan level Rp 8.900/US$ merupakan level yang dinilai aman dan cukup baik.

"Level yang sekarang saya kira cukup baik, dalam artian tadi bisa menjaga kestabilan ekonomi moneter dan perbankan, juga cukup baik mendorong momentum pertumbuhan ekonomi serta cukup baik menjaga keseimbangan neraca pembayaran," tukasnya.

(dru/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads