Hasil G20 Soal 'Perang Mata Uang' Tak Pengaruhi Pasar

Ulasan Sepekan

Hasil G20 Soal 'Perang Mata Uang' Tak Pengaruhi Pasar

- detikFinance
Senin, 25 Okt 2010 07:06 WIB
Jakarta - IHSG akhir pekan lalu ditutup pada level 3.597 atau hanya menguat tipis bila dibandingkan dengan perdagangan akhir pekan sebelumnya. Tipisnya kenaikan IHSG tersebut didorong oleh masa konsolidasi yang terjadi pada bursa saham Indonesia.

Analis dari BNI, Muhammad Fikri mengatakan, selama pekan lalu, sebagian investor di bursa saham indonesia sudah banyak yang melakukan profit taking,Β  meski disisi lain minat investor asing untuk masuk ke bursa indonesia masih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan IHSG bergerak sideways dalam kisaran yang sempit, walaupun volume transaksi masih cukup tinggi.

Sedangkan dari Wall Street, pekan lalu bursa Amerika baik itu Dowjones, Nasdaq dan S&P500 ditutup menguat dibandingkan pekan sebelumnya. investor di Amerika kembali antusias untuk masuk ke bursa saham setelah melihat realisasi laporan keuangan kuarter ke III dari beberapa emiten besar di Amerika yang tumbuh positif melebihi prediksi para analis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sayang, kenaikan bursa saham di AmerikaΒ  tersebut masih terjadi dalam volume transaksi yang tipis, mengingat para investor bersikap wait and see terhadap hasil dari pertemuan G20.

Sementara hasil pertemuan para menteri keuangan yang tergabung dalam G20 di Gyeongju, Korea Selatan menyepakati masing-masing negara tidak akan berupaya untuk memperlemah nilai mata uangnya guna mendorong ekspor negaranya. Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari negara G20 tersebut juga sepakat untuk membiarkan nilai mata uangnya ditentukan oleh mekanisme pasar guna meredam tensi dagang antar negara berkembang dan maju yang dikhawatirkan akan menghambat proses pemulihan ekonomi.

"Namun demikian, banyak yang menyangsikan China sebagai negara yang paling disorot dunia akibat sikapnya yang tetap mempertahankan nilai mata uangnya lemah akan mengikuti kesepakan G20 tersebut," jelas Fikri dalam reviewnya, Senin (25/10/2010).

Melalui menteri keuangannya, China berpendapat negara maju seharusnya memberikan contoh kepada negara berkembang lainnya untuk menjalankan kebijakan ekonomi yang bertanggung jawab serta menjaga agar kurs mata uang mereka tetap stabil. Pendapat menteri keuangan China tersebut secara jelas menuding Amerika yang dianggap tidak bertanggung jawab terhadap kebijakan ekonominya, karena terus menerus mencetak USD dalam jumlah masif dengan dalil untuk menggerakkan ekonomi negaranya, tanpa melihat dampak kebijakan tersebut terhadap negara berkembang lainnya.

Fikri menjelaskan, pendapat tersebut diamini oleh menteri ekonomi Jerman yang mengatakan bahwa kebijakan the Fed untuk terus mencetak dan menggelontorkan USD kepasar dalam jumlah yang masif adalah sebuah manipulasi strategi yang bertujuan untuk memperlemah posisi USD terhadap mata uang negara berkembang. Kebijakan the fed tersebut pada kenyataanya telah menciptakan hot money di negara berkembang yang dikhawatirkan akan menciptakan economic bubble.

"Pada akhirnya, kesepakatan dari forum G20 tersebut dipercaya belum akan memberikan sentimen yang positif bagi pasar, hingga semua anggota G20 benar-benar menunjukkan komitmennya untuk melaksanakan hasil kesepakatan tersebut diwaktu yang akan datang," ucapnya.

Ditengah kondisi yang masih kurang menentu ini, lanjut dia, seharusnya investor meningkatkan kewaspadaannya terhadap semua sentimen yang muncul dipasar. Sebagian analis sepakat bahwa IHSG saat ini berada pada area jenuh beli, sehingga sudden reversal dapat terjadi kapan saja.

"Namun demikian, untuk minggu depan, mengingat belum adanya sentimen negatif yang benar-benar mempengaruhi pasar, maka sentimen mengenai laporan keuangan emiten kuarter III 2010 masih akan menjadi sentimen positif bagi bursa indonesia dan menjadi bumbu pemanis bursa dimata investor asing. Lebih jauh IHSG minggu depan diprediksi masih akan bergerak mixed dalam kisaran sempit dengan kecenderungan menguat," urai Fikri.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads