Sari Ayu Bidik Dana IPO Rp 300 Miliar

Laporan dari Singapura

Sari Ayu Bidik Dana IPO Rp 300 Miliar

- detikFinance
Senin, 25 Okt 2010 07:50 WIB
Sari Ayu Bidik Dana IPO Rp 300 Miliar
Jakarta - PT Martina Berto, produsen produk kecantikan Sari Ayu membidik dana dari Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 300 miliar. Dana itu akan digunakan untuk pembangunan pabrik, fasilitas research & development.

Demikian disampaikan Samuel Pranata, Marketing Director PT Martina Berto dalam wawancaranya dengan detikFinance di Marina Square, Singapura, Jumat (22/10/2010) pekan lalu.

"Rencananya kita memang proyeksi dana 300 Milyar. Cuma kembali lagi nanti tergantung dengan harganya karena kita memang dari 300 itu beberapa persen untuk buat pabrik, berapa persen untuk membangun fasilitas R&D dan berapa persen untuk pengembangan scientific," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito sebelumnya mengungkapkan, PT Martina Berto berencana untuk melepaskan 34% sahamnya ke bursa di tahun ini.

Dalam kesempatan tersebut, Samuel juga mengungkapkan sejumlah rencana dan target yang akan dicapai oleh perusahaan milik Martha Tilaar itu. Termasuk membidik sejumlah pasar kosmetik di pasar negara-negara maju termasuk di AS.

Berikut wawancara lengkap dengan Samuel:

Berapa dana yang dihimpun dari IPO?


Rencananya kita memang proyeksi dana Rp 300 miliar. Cuma kembali lagi nanti tergantung dengan harganya karena kita memang dari 300 itu beberapa persen untuk buat pabrik, berapa persen untuk membangun fasilitas R&D dan berapa persen untuk pengembangan scientific.

Kalau di dalam negeri sendiri strateginya bagaimana?

Yang pasti mengembangkan produk-produk baru yang memang dikategori yang kita belum punya. Pasta gigi kita belum dulu, atau juga fragrance yang kita belum masuk di sana. Mungkin kita akan masuk ke sana dan kita juga akan memperkuat kategori-kategori, seperti body care, bath and shower yang pasarnya besar banget.

Target seperti apa di dalam negeri?

Hopefully, bisa top three karena kita memang harus bisa growth-nya itu melebihi dari growth industri. Which is industri yang kita lihat 5% di Indonesia buat kategori kosmetik. Di Amerika memang proyeksinya kurang lebih 15 persen, jadi kita memang targetnya melebihi average growth industri. Tahun ini, kita nargetinnya di angka 12%, tahun depan diangka 18%, tahun depannya lagi kurang lebih 18 %juga. Dalam jangka dua tahun kita bisa diangka 15%. Jadi kita harapkan share-nya naik yang tadinya diangka 9, hopefully bisa ke-3.

Strateginya ke luar negeri seperti apa?

Ada 4, kita buka shop sendiri, trus ada trading, jadi kita lebih ke distribusi, masukin barang ke toko-toko mereka. Yang ke tiga spa treatment, satu lagi private label. Jadi kita bisa membuatkan dengan adjustment formula dengan requirement yang dia mau.

Berarti mereka ganti labelnya sendiri, tapi masih ada label Martha Tilaarnya?


Iya. Biasanya mereka ada requirement-nya, produce by siapa jadi nanti kita bisa tulis di situ karena di luar negeri biasanya mereka perlu tahu, siapa sih manufacturing-nya.

Jadi mana sih yang paling prospektif?

Salah satunya ini Martha Tilaar Shop. Sebetulnya empat-empatnya prospektif. Cuma sebenarnya Martha Tilaar shop ada target 10, kalo trading memang rencananya juga sebisa mungkin kita mengkontribusi eksport market kita 5%. Namun saat ini baru 2% di total grup kita. Jadi kita lagi mencari distributor dan agen yang mau menjual produk kita di luar negeri.

Sejauh ini negara mana yang paling banyak?

Malaysia, Brunei, Philipina, Hong Kong, Taiwan dan Jepang. Jepang masih kecil, namun kita memang coba berusaha. Sebenernya Jepang, gampang-gampang susah karena Jepang kan suka bali, suka Indonesia jadi lebih mudah. Namun requirement mereka beda, mereka tuh harus ada certain chemical formulla, ada yang dikurangi dan tambah.

Market research apa yang memperkuat untuk buka di sini?

Kita sudah mensurvei di sini telah beberapa tahun. Pertamanya, mau buka di Changi, setelah kita survei Changi oke, tapi secara cost ratio ngga masuk, karena mahal sekali di sana. Tapi sekali kita masuk ke Changi everybody knows karena kan semua orang pasti ke Changi. Kita telah melakukan survei, di Orchard penuh, tidak ada tempat yang kosong. Kalaupun ada mall baru, tempatnya kurang cocok karena lebih ke anak muda.Β  Sudah research selama tiga tahun.

Market yang diinginkan seperti apa?

Lokal Singapura, turis dan orang Indonesia. Kalau orang Indonesia mungkin lebih membawa image. Kemarin banyak orang Indonesia yang sadar bahwa Martha Tilaar ada di Marina Square.

Hasil apa yang paling mendorong?


Survei sih, kita harus proyeksi dulu, kita harus tahu utilisasi sewanya, trus mungkin dari lokasi. Kita harus tanya ini berapa orang sih, trus kita hitung deh, kurang lebih sehari bisa satu juta pengungjung. Yaa anggaplah yang ke toko kita berapa persennya. Nah, kita hitung-hitung dengan cost-nya masuk. Nah mungkin itu pendekatan yang kita lakukan. Salah satu yang ibu Martha bilang, pilihan di Singapura itu mungkin orang-orang menjadi hub business di ASEAN. jadi memang walaupun mahal di Singapura, tapi kalo kita sudah masuk image kita akan terbawa juga. Malaysia cukup kuat, tapi kita lebih ke trading, lebih ke pasar trdsioanalnya kan. sama lah kaya Indonesia, ya ke Carefour, ke toko-toko kosmetik di malaysia malah kita belum buka. Di malaysia itu kita ada counter biasa bukan shop, di Parkson pavilion bukit bintang.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads