Pelemahan dolar AS berlanjut setelah pertemuan G20 memutuskan untuk menghentikan perang mata uang global.
"Kami memiliki dolar yang lebih rendah, kami memiliki suku bunga yang rendah dan tidak berbahaya dan Anda tidak dapat mengalahkan kombinasi itu untuk mengembalikan perekonomian atau harga saham," ujar Hugh Johnson, chief investment officer Hugh Johnson Advisors LLC seperti dikutip dari Reuters, Selasa (26/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga saham dan dolar akhir-akhir ini selalu bergerak berlawanan arah, sehingga ketika dolar AS melemah, saham-saham lebih sering menguat. Sejak 1 September, indeks S&P telah menguat hingga 13% sementara indeks dolar DXY yang menghitung nilainya terhadap mayoritas mata uang melemah 7,4%.
Indeks sektor material S&P, GSPM yang sensitif terhadap pelemahan dolar AS tercatat menguat 1,7%. Saham Freeport-McMoRan Copper and Gold Inc menguat hingga 2,2%.
Namun penutupan perdagangan itu tidak dalam posisi terbaiknya seiring pulihnya dolar AS mendekati sesi akhir perdagangan, setelah sempat terpuruk ke titik terendahnya atas euro.
"Ini semua tentang mata uang, dolar AS menguat dan euro meudar. Komoditas, termasuk tembaga, juga mengalami hal yang sama, gain mereka berkurang menjelang penurupan perdagangan," ujar Stephen Massocca, managing director Wedbush Morgan.
Perdagangan berjalan dengan volume transaksi di New York Stock Exchange mencapai 7,2 miliar lembar saham, di bawah rata-rata volume perdagangan pada tahun ini sebesar 8,76 miliar.
(qom/qom)











































