Menurut Direktur Utama TBIG Herman Setya Budi, dana tersebut didapat dari beberapa sumber, diantaranya penggalangan dana Initial Public Offeing (IPO) Rp 1,11 triliun, dengan jumlah saham yang dilepas 551.111.000 lembar dan harga Rp 2.025 per saham. Sisanya, Rp 1,17 triliun hasil dari pinjaman sindikasi perbankan asing.
"Total dari dana yang kami dapat akan digunakan untuk ekpansi, US$ 250 juta. Plan dana kita bisa pakai sampai pertengahan 2012. Kalau sudah habis di 2011 lebih bagus, karena capex (capital expenditure) akan berdampak langsung kepada revenue (pendapatan)," jelas Direktur Keuangan Tower Bersama, Helmy Yusman Santoso.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebanyak US$ 220 juta dari pinjaman baru tersebut, dialokasikan untuk membayar utang jatuh tempo kepada Bank UOB, BCA, Bank CIMB Niaga dan Industrial and Coomercial Bank of China (*ICBC*). Nah, sisanya dimasukkan ke dalam pos perbankan belanja modal US$ 130 atau Rp 1,17 triliun, dengan menggunakan kurs Rp 9000 per dollar AS
"Sindikasi dari 7 bank kita gunakan untuk bayar utang US$ 220 juta, sisanya masuk belanja modal," ungkap Herman.
Hingga September 2010, perseroan memiliki 2.700 menara dengan jumlah pelanggan mencapai 4.400 tenant. Hingga akhir tahun di targetkan jumlah pelanggan bisa mencapai 4.800 tenant.
"Kita juga sedang menjajaki akuisisi di tahun ini. Sedang analisa beberapa perusahaan tapi belum ada legalitas. Jadi belum bisa disampaikan. Kita tiap tahun biasanya selalu ada akuisisi baik aset berupa tower ataupun perusahaan," tegasnya.
Â
Â
(wep/dro)











































