"Kita terus jaga rupiah agar tidak keluar dari nilai fundamentalnya. Kita penguatan selama tahun 2010 year to date 5%. Thailand lebih kuat yaitu 9-10%. Mereka memang membiarkan, kalau kita tahan agar apresiasi tidak terlalu kuat," kata Gubernur BI Darmin Nasution di Kantor BI Bandung, Jalan Braga Bandung, Rabu (27/10/2010).
Penguatan nilai tukar rupiah merupakan dampak dari arus modal asing (capital inflow) yang terus merangsek masuk Indonesia. Hal ini menjadi kekhawatiran tersendiri, apalagi jika dana segar ini bersifat spekulatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, intervensi dari sektor moneter saja dirasa sangat kurang. Harus ada kebijakan lain berupa penambahan instrumen penyerapan modal oleh swasta ataupun BUMN di pasar saham.
Hal ini menjadi solusi yang lengkap, karena arus modal asing masuk bisa terserap melalui rights issue, Initial Public Offering (IPO), ataupun Obligasi.
"Akan lengkap respon kita terhadap capital inflow. Kita bisa memanfaatkan yang masuk melalui IPO, rights issue, atau obligasi. Hingga ada outlet baru untuk memasukan uang-uang ini. Kalau ada instrumen baru maka kapitalisasinya membesar dan indeks kuat, tapi kuatnya tidak spekulatif," jelas Darmin.
"Capital inflow juga terjadi bukan hanya di Asia Tenggara, tapi juga dunia. Maka mata uang negara emerging market menjadi terlalu kuat," tambahnya. (wep/dnl)











































