Demikian dijelaskan dalam laporan keuangan DOID yang dipublikasikan di Jakarta, Jumat (29/10/2010).
Sepanjang periode Januari-September 2010, harta tanah, bangunan dalam konstruksi serta unit apartemen DOID berkurang Rp 94,775 miliar menjadi Rp 14,75 miliar, dari triwulan III tahun lalu, Rp 109,852 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tercatat hingga paruh pertama 2010, perseroan sedang mengupayakan penjual lahan 4 ha di Bali serta 120 ha di Balikpapan, serta apartemen di wilayah Surabaya.
Sedangkan persediaan jasa penambangan juga mencapai Rp 218,235 miliar, setelah di periode lalu nihil. Ini dimaklumi, karena perseroan kini bergerak di jasa pertambangan. Total perserdiaan hingga September 2010, mencapai Rp 232,985 miliar, naik dari tahun lalu, Rp 109,852 miliar.
Kinerja perseroan pun mencatat prestasi yang signifikan, dengan capaian laba bersih Rp 351,927 miliar. Bandingkan dengan periode triwulan III-2010, yang mengalami rugi bersih Rp 6,338 miliar.
Pendapatan bersih DOID juga naik empat kali lipat lebih, dari Rp 994,5 juta menjadi 4,191 triliun. Laba kotorpun mencapai Rp 955,904 miliar, jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, Rp 994,5 juta.
Usai terpangkas beban Rp 199,942 miliar, laba usaha perseroan mencapai Rp 755,961 miliar. Lebih baik dari periode sebelumnya yang mengalami rugi usaha Rp 6,988 miliar.
Laba sebelum pajak kontraktor tambang ini mencapai Rp 586,95 miliar, dengan laba bersih per saham Rp 51,83.
(wep/ang)











































