Para investor ritel itu bahkan rela hanya mendapat jatah 1 lot atau 500 lembar saham, meski sebenarnya ingin membeli ratusan ribu lembar. Para pemburu saham KS yang ditemui detikFinance di tempat penawaran, Kantor Cabang Bank Mandiri di Jalan Abdul Muis, Jakarta, rata-rata pesimistis bisa mendapat jatah saham KS.
Seperti diketahui, untuk penawaran umum ke investor ritel hanya dijatah 631 juta lembar atau 2% dari total saham yang ditawarkan kepada publik sebanyak 3,155 miliar lembar. Meski saham untuk investor ritel angat minim, mereka tetap berupaya mendapatkan jatah saham KS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Katanya (saham) sudah pada habis di-booked. Paling dapat 10%-nya," ungkapnya kepda detikFinance.
"Ini (KS) kan BUMN. Ini punya negara dan otomatis milik rakyat. Harusnya kalau (saham) dijual, didahulukan ke rakyat. Saya juga baru coba-coba. Saya langsung buka rekening (efek) di Bahana, itu kan juga perlu setor Rp 5 juta minimal," keluhnya.
Investor lain, Anton yang tiba pukul 10.30 WIB mengaku dirinya cukup tertarik dengan saham IPO KS. Padahal sebelumnya, Anton tidak mengagendakan pergi ke lokasi penawaran saham KS ini.
"Tadi saya lewat saja. Kalau IPO masih okelah," tegas Anton.
Namun dirinya mempertanyakan prinsip keadilan dan pemerataan untuk alokasi saham investor ritel ini. Jika hanya di satu tempat di Jakarta, bagaimana dengan masyarakat lain yang ada diluar daerah?
"Apa ini mengakomodir, dengan populasi kita (Indonesia) yang begitu banyak, tapi hanya di satu tempat? Terus daerah lain? Harusnya kan ada kesempatan buat mereka-mereka di luar daerah," katanya.
Memang penjatahan untuk investor ritel kabarnya hanya 1 lot untuk setiap individu. Artinya, sebanyak apapun modal yang dihimpun investor yang bersangkutan, 100 ribu lot, 1.000 lot, tetap saja mereka hanya mendapatkan 500 lembar saham BUMN baja ini.
Tercatat banyak masyarakat yang rela mengantre sejak pukul 08.00 WIB. Ada Yeni warga Jelambar yang telah antre sebelum loket buka. Juga ada Latief, salah satu karyawan bank swasta asal Mampang Prapatan.
"Saya kesini naik busway (Trans Jakarta), izin ke kantor karena mau ke bank," celoteh Yeni sambil tersenyum.
"Saya pesen 3 lot aja. Ini uang rakyat. Tapi kabarnya cuma dapat 1 lot- 1 lot. Saya datang dari pagi, tapi petugas ga kasih nomor antrian. Ga bener tuh," tambahnya.
Penawaran umum mulai dilaksanakan hari ini, Selasa (2/11/2010) hingga Kamis (4/11/2010). Setiap hari terbagi menjadi dua sesi. Sesi I mulai pukul 09.00-12.00 dan sesi II 13.00-15.00. Dan setiap sesi ada 360 nomor yang disediakan, terdiri dari masing-masing 120 nomor dengan warna-warna berbeda, merah, biru dan hitam.
Menjelang pembukaan sesi II hari ini, masyarakat mulai mengantre berbaris untuk ambil antrean. Bahkan sempat terjadi sedikit kekisruhan, karena ada yang meminta lebih dari satu nomor.
"Saya sama teman saya, masak cuma satu (nomor). Ini antrinya gimana sih, satu jalur atau dua jalur," protes salah satu calon investor.
Ferdi, investor yang detikFinance temui siang hari, mengaku telah menyediakan dana untuk membeli maksimal 1.000 lot. "Saya mau ambil 600 lot-1.000 lot," imbuhnya.
Ini merupakan kesempatan kedua bagi Ferdi, setelah pada masa bookbuilding dirinya juga memesan saham KS. "Waktu itu saya pesen 400 lot dibookbuilding, tapi cuma 4 lot yang balik," pungkasnya.
KS berencana melepaskan 3.155.000.000 saham baru ke publik dan mencatatkannya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2010. Harga pelaksanaan IPO ditetapkan sebesar Rp 850 per saham atau total perolehan dana IPO sebesar Rp 2,681 triliun.
Dalam IPO ini, KS menunjuk 3 penjamin emisi (underwriter) yakni PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Bahana Securities. Proses bookbuilding yang telah digelar dan berakhir pekan lalu, KS berhasil memperoleh pesanan hingga 30 miliar saham atau hampir 9 kali dari jumlah saham yang dilepas ke publik.
Penawaran saham perdana ini sempat diwarnai dengan 'kekisruhan' karena penetapan harganya yang dinilai terlalu murah untuk BUMN sekelas KS. Sementara pihak underwriter menegaskan, penetapan harga itu sudah melalui perhitungann cermat. Jika dinaikan saja Rp 50 ke Rp 900 per lembar, maka KS bisa kehilangan sekitar setengah dari investor yang sudah melakukan penawaran.
Menteri BUMN Mustafa Abubakar sebelumnya juga mengungkapkan, 3 investor asing dipastikan masuk melalui pembelian saham perdana ini yakni Fidelity Limited, Merrill Lynch, Goldman Sachs and Posco.
(wep/qom)











































