Market Flash eTrading

Market Flash eTrading

- detikFinance
Rabu, 03 Nov 2010 10:00 WIB
Market Flash eTrading
Jakarta - Market Prediction:

Indeks Dow Jones kemarin ditutup menguat 64 point (+0.58%) ke level 11,188.72 seiring dengan ekspektasi pasar yang berharap Partai Republik, yang lebih pro pasar, akan memenangkan pemilu sela serta euforia yang masih terjadi karena akan dikeluarkannya stimulus tahap dua oleh The Feds.

Pada hari Selasa (2/11/2010) kemarin IHSG ditutup melemah 19 point (-0.54%) ke level 3625.49 dimana yang menjadi pemberat IHSG adalah saham TLKM. Asing kemarin tercatat masih melakukan net sell sebesar Rp 107 Miliar. IHSG sendiri pada saat ini telah keluar dari area overbought sehingga pada hari ini diperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 3600-3671 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain INDF, ADRO dan TINS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

News & Analysis:

Penjualan Ban Goodyear Capai USD 5 Miliar
Garap 7 Ruas Tol, Jasa Marga Cari Utang Rp 17,5 Triliun
PP Raih Kontrak Baru Rp 286,9 Miliar
Kredit Bank Mandiri Rp 50 Triliun Masih 'Nganggur'

Market Watch
TLKM : Saham TLKM Turun 9.8% Dalam 3 Hari Perdagangan .

News and Analysis:

GDYR: Penjualan Ban Goodyear Capai USD 5 Miliar Produsen ban yang beroperasi secara global Goodyear Tire & Rubber Company mencatatkan kenaikan penjualan sebanyak 13 persen menjadi USD5 miliar pada kuartal ketiga 2010 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Volume unit ban mencapai 47,7 j uta, naik enam persen dari tahun lalu," jelas Chairman dan CEO Richard J Kramer, di Jakarta, Selasa (2/11/2010).

Selama kuartal ketiga, ban Goodyear Assurance Fuel Max terjual lebih dari tiga juta unit di Amerika Utara sejak diperkenalkan pada tahun 2009. Ban Fuel Max baru-baru ini juga diperkenalkan di pasar Amerika Latin dan Asia Pasifik.

Comment: Meskipun penjualan GDYR meningkat 13% menjadi USD 5 miliar, namun kami melihat bahwa kinerja keuangan GDYR masih belum maskimal. Sebagai informasi, pendapatan usaha tercatat US$ 234 juta pada kuartal ketiga tahun 2010, turun US$ 41 juta dari kuartal ketiga tahun lalu. Karena beban tersebut, GDYR mencatatkan kerugian bersih kuartal ketiga sebesar US$ 20 juta atau 8 sen per saham, dibandingkan dengan laba bersih sebesar US$ 72 juta atau 30 sen per saham pada kuartal 2009.

JSMR: Garap 7 Ruas Tol, Jasa Marga Cari Utang Rp 17,5 Triliun PT Jasa Marga Tbk (JSMR) berniat mencari utangan sebanyak Rp 17,5 triliun tahun depan untuk penyelesaian proyek 7 ruas jalan tol. Dana itu akan didapat dari beberapa bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Menurut Direktur Utama Jasa Marga Frans Sunito, total kebutuhan untuk proyek tersebut diprediksi sebanyak Rp 25 triliun. Sebanyak 30% atau setara Rp 7,5 triliun akan dipenuhi dari kas internal perseroan sementara sisanya dari JSMR pinjaman perbankan.

Comment: Kami melihat rencana perusahaan ini sebagai suatu hal yang positif, walaupun perlu diperhatikan juga bahwa jumlah pendanaan yang akan didapatkan perusahaan untuk proyek sebesar 70% dari total dana yang dibutuhkan. Namun kami menganggap hal ini tidak akan terlalu signifikan apabila dibandingkan dengan nilai return yang akan diperoleh perusahaan di masa yang akan datang dari 7 ruas jalan tol ini. Pihak perseroan sendiri menargetkan pendapatan sebesar Rp 4,2 Triliun untuk tahun ini dan tahun depan akan tumbuh 10 – 15%, suatu angka yang cukup optimis dapat terelealisasi untuk perusahaan pengelola jalan tol ini. Berdasarkan consensus analis, 18 mereko mendasikan Buy, 1 merekomendasikan Hold, dan 1 merekomendasikan Sell. Target harga rata– rata consensus adalah Rp 4.049,- per lembar saham.

PTPP: PP Raih Kontrak Baru Rp 286,9 Miliar

PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP) mendapat kontrak baru berupa pembangunan komplek perkantoran, pabrik dan pergudangan dari PT Dahana (Persero), BUMN strategis di bidang Alutsita senilai Rp 286,9 miliar. Jadwal pembangunan akan rampung hingga September 2012.

Comment: Kontrak baru perseroan ini kami nilai sebagai suatu hal yang baik dimana hingga saat ini perseroan masih berusaha untuk memenuhi target kontrak tahun ini sebesar Rp 3,42 Triliun yang hingga saat ini baru terelealisasi Rp 2,18 Triliun. Kontrak ini sendiri belum dapat dimasukkan ke pos pendapatan karena menunggu realisasi proyek terl ebih dahulu dan sisanya akan menjadi carried over untuk tahun berikutnya. Menurut consensus, 2 merekomendasikan Buy, 1 Hold, dan tidak ada yang merekomendasikan Sell. Target harga rata – rata consensus Rp 1.125,-.

BMRI: Kredit Bank Mandiri Rp 50 Triliun Masih 'Nganggur'

Hingga kuartal III-2010, kredit 'nganggur' alias belum dicairkan (undisbursed loan) PT Bank Mandiri Tbk mencapai Rp 50 triliun. Naik 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kredit yang belum dicairkan ini paling banyak dari sektor infrastruktur, juga sektor manufaktur, makanan dan minuman, serta telekomunikasi. Meski demikian meningkatnya tingkat undisbursed loan tersebut tidak menjadi hal yang mengkhawatirkan. Pasalnya jumlah penyaluran kredit juga meningkat. BMRI

Comment: kami menilai jumlah undisbursed loan ini tidak akan terlalu signifikan dalam mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan karena terdapat pula kenaikan jumlah kredit yang sudah disalurkan oleh perusahaan. Memang ada kemungkinan kenaikan jumlah pendapatan yang akan diperoleh apabila undisbursed loan itu dikurangi menjadi kredit, dankami harap ini dapat menjadi pertimbangan bagi perusahaan itu sendiri. Berdasarkan consensus, 21 merekomendasikan Buy, 6 Hold, dan tidak ada yang mereko mendasikan Sell. Target price rata – rata adalah Rp 7.639,-


BWPT: Laba Q3 BWPT Menurun

Sampai dengan kuartal III 2010, PT BW Plantation Tbk membukukan pendapatan usaha sebesar Rp. 418,490 milyar atau turun sebesar 7,0% dibandingkan dengan pendapatan usaha periode yang sama tahun 2009 High

Comment: Penurunan laba perusahaan dikarenakan adanya penurunan penjualan CPO sampai dengan kuartal III ini dimana tahun 2010 ini penjualan mencapai 58,948 ton atau turun 14.6% dibandingkan dengan periode 2009 yang mencapai 68,946. Untuk total TBS kami proyeksikan perusahaan mampu memproduksi 369,470 ton dengan estimasi produksi CPO dan kernel sebesar 88,746 ton dan 13,433 ton serta asumsi bahwa harga rata-rata CPO selama tahun 2010 dapat terjaga di kisara US$ 830/MT. Berdasarkan asumsi ini kami memberikan reko mendasi BUY dengan target price Rp 1.260/saham atau memiliki potential upside sebesar 26% dengan mengacu pada harga penutupan kemarin yang berada di level Rp 1.000/saham.

Market Watch:

TLKM: Saham TLKM Turun 9.8% Dalam 3 Hari Perdagangan Gabungan kekecewaan dengan hasil laporan keuangan 3Q10 telkom dan rencana penurunan tariff interkoneksi pada awal tahun depan telah membuat saham Telkom turun hampir 10 persen selama 3 hari perdagangan. EBIT perseroan pada 3Q10 qtq turun 3% sedangkan bila dibanding dengan kuartal yang sama tahun lalu (kuartal 3Q09), ebit turun 9%. Laba bersih perseroan pada 3Q10 qtq turun 9% bila dibanding dengan kuartal yang sama tahun lalu (kuartal 3Q09), laba bersih turun 10%. Estimasi consensus analis baik EBIT maupun laba bersih pada kuartal ke 4 tidak akan tercapai sehingga kemungkinan akan ada revisi proyeksi yang akan menentukan target harga. Rencana penurunan tariff interkoneksi pada awal tahun depan diprediksi akan membuat beberapa operator menurunkan tariff sehingga akan terjadi perang tariff kembali yang pada akhirnya merugikan operator, operator yang paling dirugikan dalam hal ini ialah operator yang dominan (market leader).

Economic & Strategy

Ekonomi: RI-Australia Bakal Tingkatkan Kerjasama Ekonomi Indonesia dan Australia sepakat untuk meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi secara komprehensif. Di mana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai hubungan Indonesia - Australia telah berjalan dengan baik sejauh ini, dan kerjasama ekonomi ini akan semakin memper erat hubungan dua negara tersebut. "Hubungan dan kerjasama Australia dan Indonesia berjalan dengan baik, terus berkembang dan kami sepakat untuk meneruskan kerjasama itu ke depan," papar Presiden SBY usai menerima kunjungan Perdana Menteri Australia Julia Gillard di Istana Merdeka , Jakarta,Β  Selasa (2/11/2010).

Comment: Langkah pemerintah dalam meningkatkan kerjasama RI-Australia menurut kami adalah strategi yang cukup baik selama mendukung pertumbuhan ekonomi RI. Langkah strategis yang dilakukan dapat berupa kerjasama ekonomi, perdagangan (ekspor-impor) dan investasi baik investasi riil dan investasi finansial. Sebagai informasi, Tahun lalu total perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$ 6,7 miliar. Tahun ini semester pertama saja US$ 4,4 miliar atau naik sebesar 22 persen. Diha ra pkan kedepannya kerja sama tersebut dapat terus meningkat khususnya bagi pertu mbuhan ekonomi RI.


(dro/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads