"Ada banyak isu yang berkembang, mulai dari downgrade saham TLKM, isu pengalihan investor ke Krakatau Steel (KS) sampai corporate action Flexi-Esia. Untuk isu KS, saya meragukan itu. Saya kira lebih kepada rencana sinergi TelkomFlexi dengan BTEL," ujar Direktur Utama PT Finan Corporindo Nusa Edwin Sinaga saat dihubungi detikFinance, Rabu (3/11/2010).
Saham Telkom mengalami tekanan jual hebat selama 4 hari terakhir. Total nilai transaksi saham TLKM selama periode tersebut mencapai Rp 2,215 triliun. Total nilai beli asing sebesar Rp 415,456 miliar, sedangkan nilai jual asing mencapai Rp 1,311 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapitalisasi pasar saham TLKM pun langsung merosot Rp 24,192 triliun dari Rp 186,479 triliun pada penutupan perdagangan 28 Oktober 2010 menjadi Rp 162,287 triliun pada penutupan sesi I 3 November 2010.
Kabar yang beredar sempat mengatakan kalau investor asing beralih portofolio dari TLKM ke saham perdana KS. Pengamat saham Uki Mahendra juga tidak melihat ada kecenderungan tersebut. Menurutnya, peralihan portofolio asing dari TLKM lebih didorong oleh perhitungan jangka panjang atas kinerja TLKM.
"Investor asing pasti berfikir long term. Dan saya pikir tidak beralih ke KS. Ini hanya karena kebijakan fund-fund manager dalam alokasi dana saja," kata Mahendra.
Menurutnya, tekanan jual asing pada saham TLKM bakal terus berlanjut dalam jangka pendek. "Mereka beralih ke saham komoditi, kan harga minyak dan batubara sedang naik. Kalau lihat kesempatannya ada, akan masuk lagi ke TLKM. Kan TLKM saham blue chip," tambahnya.
(dro/qom)











































