Indeks Dow Jones kemarin ditutup menguat 26 point (+0.24%) ke level 11,215.13 setelah keputusan dari bank sentral AS, The Feds, yang akan mengeluarkan insentif sebesar USD 600 Miliar mengangkat saham – saham dari sektor finansial, khususnya perbankan. IHSG sendiri pada perdagangan hari Rabu (3/11) melemah 19 point (-0.55%) ke level 3605.67, penurunan ini masih dikarenakan aksi jual asing yang mengiringi sepanjang perdagangan. Asing kemarin tercatat melakukan net sell sebesar Rp 203 Miliar pada pasar regular. Pada hari ini IHSG kemungkinan besar akan bergerak di sekitar 3587 – 3645 dengan saham – saham yang dapat diperhatikan a.l. HRUM, BBNI, ADRO, dan ELTY.
Research Report
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PT BW Plantation Tbk adalah perusahaan perkebunan murni yang menjanjikan return yang tinggi di masa yang akan dengan lahan perkebunan perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Lahan perkebunan usia immature yang luas akan menjadi asset perusahaan untuk pertumbuhan jangka panjang, sementara profil usia perkebunan lainnya sedang menghasilkan premium yield. Lahan yang belum ditanami dengan luas sebesar 51.8k Ha (setelah penyesuaian new planting schedule) diharapkan akan membantu rencana ekspansi yang agresif. Dengan menganalisa asset pertumbuhan perusahaan serta melihat industri kelapa sawit yang masih menjanjikan ke depannya, kami merekomendasikan BUY dengan target price 1 tahun Rp 1.260/saham dengan potential upside 26%.
News & Analysis
ENRG: Produksi Migas Energi Mega Stagnan di 13.100 BOEPD
Produksi rata-rata minyak dan gas PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) hingga triwulan III-2010 mencapai 13.100 BOEPD (barrel of oil equivalent per day) atau tidak berubah dari angka produksi di periode yang sama tahun lalu. Demikian disampaikan Direktur ENRG Amir Balfas dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (3/11/2010). Ia menambahkan, bahwa penghentian sementara produksi di lapangan Sepanjang, Blok Kangean PSC tidak mengganggu aktivitas perseroan. Hingga triwulan III -2010, produksi rata-rata minyak perseroan tetap berada di level Rp 6.300 barrel per hari.
Comment: Kami melihat bahwa produksi migas ENRG masih dalam tahap normal, namun demikian dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2009 relatuif stagnan. Penghentian sementara produksi di lapangan Sepanjang, blok Kangean PSC menjadi faktor pendukung stagnannya produksi migas ENRG, meskipun produksi rata-rata minyak masih tetap berada di level Rp 6.300 barrel per hari. Kedepannya diharapkan ENRG mampu meningkatkan produksi migasnya sejalan dengan pengeboran sumur baru atau sumur pengembangan, serta aktivitas work over dari lapangan Pagerungan, blok Kangean PSC juga blok Semberah TAC. Selain itu, kami menilai bahwa realisasi produksi baru dari dua lapangan eksplorasi ENRG, yaitu lapangan Segat di Bentu PSC, Riau dan lapangan minyak Pegerungan Utara, di wilayah Kangean PSC, Jawa Timur menjadi faktor penting dalam peningkatan produksi migas ENRG. Konsensus analis (Bloomberg) mencatat 2 rekomendasi beli, 1 rekomendasi tahan dan 3 rekomendasi jual dengan target price Rp 148.
LPKR: Lippo Karawaci Akuisisi Rumah Sakit Rp160 M
PT Lippo Karawaci Tbk mengakuisisi rumah sakit terkemuka di Jambi dengan investasi sebesar US$18 juta atau sekitar Rp160,71 miliar. Akuisisi yang menggunakan dana internal perseroan itu akan mendorong dan meningkatkan strategi rumah sakit, serta lebih memperluas jaringan nasionalnya.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Lippo Karawaci memperoleh 83 persen kepemilikan saham dan akan mengendalikan rumah sakit swasta ternama di kota Jambi itu. Berlokasi di jalan protokol utama di Jambi dan hanya lima menit dari bandara, rumah sakit ini siap melayani masyarakat Jambi dan daerah sekitarnya dengan menjangkau 1,2 juta orang untuk daerah metropolitan yang lebih luas.
LPKR mengharapkan, setelah dilakukan perombakan dan peningkatan, rumah sakit tersebut akan diperkenalkan kepada pasar di bawah nama dan manajemen 'Siloam Hospitals' pada Januari 2011. Dari rumah sakit baru itu, Lippo Karawaci mengharapkan kenaikan pendapatan pada 2011 sebesar lima persen. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit kelima dalam jaringan Siloam Hospitals.
Lippo berharap untuk menutup tahun ini dengan menambah tiga rumah sakit menjadi tujuh rumah sakit dalam jaringannya dan menjadi kelompok rumah sakit swasta terbesar di Indonesia. Pendapatan rumah sakit pada 2011 diharapkan akan meningkat lebih dari 35 persen. Baru-baru ini, perseroan bermaksud meningkatkan divisi Siloam sebesar empat kali lipat menjadi 25 rumah sakit dan memberikan pendapatan tahunan sebesar US$500 juta dalam lima tahun sebagai kontribusinya bagi transformasi sosial Indonesia dalam meningkatkan standar dan kualitas hidup masyarakat.
Comment: perseroan berusaha melakukan diversifikasi income dan mendapatkan lebih banyak recurring income, Kontribusi healthcare (rumah sakit) kepada perseroan saat ini sebesar 34.09%. Kami menilai positif akuisisi ini. Saat ini 5 analis merekomendasikan buy dan 1 hold dengan target harga tertinggi 890/saham dan target harga rata-rata 840.
Economic & Strategy
BI: Sebulan, Dana Asing Serbu SBI & SUN Rp 17,9 T
Bank Indonesia (BI) mencatat dana asing pada instrumen rupiah dalam sebulan meningkat sebesar Rp17,9 triliun. Dalam sepekan terakhir di bulan Oktober ada dana asing masuk sebesar Rp1,8 triliun. "Sampai dengan Oktober, penempatan investor asing terbesar secara nominal masih di SUN diikuti SBI dan saham," ungkap Kabiro Humas BI Difi Johansyah dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (3/11/2010). Hingga 29 Oktober lalu, jumlah total aliran dana asing sebesar Rp285 triliun. Nilai tersebut meningkat 0,6 persen dari pekan sebelumnya sebesar Rp283,23 triliun atau meningkat 72,3 persen dibandingkan pencapaian awal tahun sebesar Rp165,39 triliun. Komposisinya sebesar Rp72,31 triliun ersimpan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Di antaranya SBI 3 bulan (Rp40,34 triliun), SBI 6 bulan (Rp30,19 triliun), SBI 9 bulan (Rp2,1 triliun). Sementara di Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp191,84 triliun dan instrumen saham Rp20,45 triliun.
Comment: Besarnya dana asing yang masuk ke Indonesia dipicu oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih dinilai baik dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika dan negara-negara Eropa. Masuknya dana asing ke Indonesia menurut kami merupakan faktor positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dana tersebut dapat dikelola dan terserap oleh sektor riil. Disisi lain, dana asing yang masuk ke Indonesia dapat kapan saja keluar (capital outflow) dan mengakibatkan fluktuasi rupiah. Hal serupa juga dapat saja terjadi pada bursa saham di Indonesia. Namun menurut kami selama kinerja keuangan emiten di bursa saham masih positif dan lebih menarik, hal tersebut akan sulit terjadi.
Properti: Laba Emiten Properti Melonjak 88%
Laba emiten properti tumbuh 88% menembus angka Rp 1,57 triliun sepanjang 9 bulan pertama 2010, di tengah rezim suku bunga terendah sepanjang sejarah pada kisaran 6,5% tahun ini. Risiko kenaikan suku bunga moneter akhir tahun ini diperkirakan tidak banyak mempengaruhi kinerja positif emiten sektor tersebut.
Comment: Dari hasil survey yang dilakukan oleh Bloomberg, kami peroleh beberapa informasi yang menunujukkan kenaikan/pertumbuhan Net Profit Emiten Property, anatara lain, DILD (Intiland Development Tbk.) yang membukukan pertumbuhan Net Profit tertinggi diantara beberapa emiten yang tercatat (35 emiten), yaitu sebesar 4.076,17% disusul oleh Ciputra Development yang tercatat naik 574,40% dan Ciputra Property (CTRP) 262,99%. Namun ada beberapa emiten yang mencatat penurunan seperti PWON (Pakuwon Jati) sebesar -75,24%, KIJA (Kawasan Industri Jababeka) -76,38% , BKDP (Bukit Darmo Property Tbk.) -159,39%. Tingkat suku bunga yang relative sangat rendah dibandingkan dengan suku bungan 5 tahun terakjir ini sangat membanu iklim industry property ini, diiringi oleh tingkat inflasi yang masih sangat terkendali yaitu pada level 5.67 di bulan Oktober ini. Apabila suku bunga mengalami kenaikan, maka yang menjadi fokus emiten property ini adalah "cost of fund" dan "cost of construction" yang juga akan mengalami kenaikan, namun apabila permintaan akan property masih mengalami kenaikan, walaupun tidak sebesar periode-periode sebelumnya, kemungkinan para developer atau kontraktor masih dapat me-maintain "bottom line" mereka dengan menahan laju kenaikan "cost" mereka yang dibantu dengan laju inflasi yang terkendali, serta mendapatkan "margin" yang cukup baik dari property-properti yang mereka selesaikan akhir tahun 2010 atau awal 2011 nanti.
(dro/dro)











































