"Setelah melakukan kajian, underwriter mengusulkan range harga di Rp 600-800 per lembar. Namun pemerintah dan KS ingin range itu sedikit dinaikkan karena banyak asing yang minat masuk," kata salah satu sumber di Kementerian BUMN kepada detikFinance, Jumat (5/11/2010).
Menurut sumber tersebut, kisaran angka tersebut merupakan harga yang paling pas bagi Krakatau Steel di mata investor karena bisnis baja di Indonesia merupakan bisnis yang volatile. Beberapa investor justru tidak ada yang berminat untuk beli di harga premium, atau Rp 850 per lembar saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, maka penjamin emisi alias undewriter yang sudah melakukan kajian itu mengusulkan harga Rp 600-800 per lembar. Namun, pemerintah tidak terlalu puas dengan range harga tersebut.
Ketika dikonfirmasi, Menteri BUMN Mustafa Abubakar menyangkal pemerintah dan Krakatau Steel telah meminta kisaran harga sahamnya menjadi lebih tinggi dan dipasang pada Rp 850-1.150 per lembar seperti yang dipasang terakhir kali daripada Rp 600-800 yang diusulkan penjamin emisi.
Menurutnya, justru penjamin emisi mengusulkan kisaran harga di Rp 700-1.150 per lembar saham. "Akhirnya kita naikkan sedikit kisarannya di Rp 850-1.150 agar Krakatau Steel bisa mendapat harga yang lebih," ujarnya.
Mustafa juga sebelumnya sudah mencoba menaikkan harga saham KS tak lama setelah ditentukan di Rp 850 per lembar menjadi Rp 950 per lembar. Namun underwriter menyatakan, jika harga saham KS dinaikkan menjadi Rp 950, maka hampir setengah dari investor asing KS akan kabur.
(ang/qom)











































