IHSG dan Hingar Bingar Global

Ulasan Sepekan

IHSG dan Hingar Bingar Global

- detikFinance
Senin, 08 Nov 2010 07:07 WIB
Jakarta - Hasil keputusan Bank Sentral AS (the Fed) pada pekan lalu pada akhirnya menjadi trigger penguatan bursa diseluruh dunia. Hampir semua bursa di dunia menguat lebih dari 1% selama pekan lalu.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia dimana pada akhir perdagangan pekan lalu IHSG kembali ditutup pada level tertingginya sepanjang sejarah yaitu pada level 3655,31. Sedangkan rupiah ditutup menguat pada level tertingginya dalam 3 tahun terakhir, dan menurut catatan BI nilai tengah rupiah ditutup pada level 8898 per dolar AS.

"Penguatan yang signifikan terhadap hampir semua bursa dunia tersebut merupakan cermin dari antusiasme investor terhadap kondisi pasar yang akan kebanjiran likuiditas dalam beberapa bulan kedepan," jelas Muhammad Fikri dalam review mingguannya, Senin (8/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, pekan lalu the Fed telah memutuskan untuk mengucurkan stimulus sebesar US$ 600 miliar atau setara dengan Rp 5.400 Triliun dengan tujuan untuk menggerakkan ekonomi Amerika. Kebijakan the Fed yang dikenal dengan istilah Quantitative Easing (QE) tersebut dilakukan melalui mekanisme pembelian surat berharga pemerintah atau lebih dikenal dengan US Treasury yang dimiliki oleh berbagai Institusi di Amerika.

The Fed dalam keputusannya akan melakukan pembelian bertahap sebesar US$ 75 miliar perbulan hingga pertengahan tahun 2011. Kebijakan stimulus the Fed ini merupakan stimulus tahap kedua setelah sebelumnya pada tahun 2009 the Fed menggelontorkan US$ 1,2 triliun ke pasar untuk membeli aset-aset busuk perbankan Amerika saat itu.

"Kebijakan stimulus tahap ke dua yang dilakukan the Fed ini secara langsung akan memberikan dampak ke Indonesia dimana dana asing yang masuk ke pasar finansial Indonesia akan semakin deras, mengingat imbal hasil investasi dalam rupiah lebih tinggi dari pada dolar AS," imbuh Fikri.

Pada dasarnya, lanjut dia, Investor asing yang tengah kebanjiran likuiditas tersebut akan memilih untuk menginvestasikan dananya di negara dengan imbal hasil yang tinggi dan fundamental ekonomi yang positif seperti Indonesia. Dan sejauh ini, Indonesia masih menjadi pilihan karena dianggap sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi Asia setelah China dan India terutama selama periode krisis.
Β 
Walau demikian, Fikri menegaskan, meningkatnya dana asing berupa 'Hot Money' ke dalam negeri yang tercermin pada terus naiknya IHSG serta terus menguatnya rupiah menimbulkan kekhawatirkan terhadap pertumbuhan sektor finansial Indonesia yang tidak sehat. Bahkan the Fitch rating memberikan perhatian khusus terhadap kondisi ini dengan menyebutkan Indonesia sebagai negara paling berisiko ketiga di Asia. the Fitch melihat bahwa kebijakan QE dari the Fed akan menciptakan capital inflow yang masif ke Indonesia sehingga risiko terjadinya capital outflow pun akan semakin tinggi.

"Walaupun banyak pihak yang mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya sudah siap dengan sudden reversal atau capital outflow mengingat besarnya cadangan devisa Indonesia, namun akan lebih bijaksana apabila pernyataan the Fitch tersebut menjadi perhatian investor domestik sehingga nantinya tidak menjadi korban dari panasnya hot money," ujar Fikri.

Untuk pekan ini ditengah euforia investor, Fikri memperkirakan bursa akan semakin semarak dengan hadirnya emiten baru, PT Karakatau Steel Tbk (KRAS) di lantai bursa.

"Namun sayang kehadiran KRAS kali ini penuh kontroversi, padahal emiten ini adalah 'The most wanted IPO of the year'. Diluar kontroversi yang muncul pada KRAS. Bursa Indonesia pekan ini masih akan bergerak positif bahkan berpeluang membuka level tertinggi baru," imbuh Fikri.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads