Menurut Direktur Keuangan BRM, Yuanita Rohali, belanja modal terbagi menjadi tiga tahap. Pada tahun pertama sejumlah US$ 240 juta akan digunakan untuk pengembangan Dairi Prima Mineral (DPM), dengan kepemilikan mayoritas 80%. Selain itu, dana juga digunakan untuk anak usaha yang lain, Bumi Mauritania, Afrika Barat.
Selanjutnya, di tahun ke-2, perseroan melanjutkan proses eksplorasi di DPM dengan alokasi dana US$ 275 juta. "Dairi Prima memiliki kandungan 5,4 juta ton dan akan berproduksi timah hitam dan seng dalam dua tahun ke depan. Akhir 2012 siap produksi," ungkapnya usai paparan publik penawaran saham perdana BRM di Hotel Ritz Calton, SCBD, Jakarta, Senin (8/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anak usaha perseroan, Bumi Mauritania, saat ini sedang tahap pengembangan dengan target produksi secepatnya tahun 2011. Berlokasi di Afrika Barat, perseroan siap memproduksi bijih besi, dengan kandungan sumber daya tercadangkan mencapai 100 juta ton.
Selanjutnya, anak usaha PT Citra Palu Minerals (CPM) dengan kepemilikan 96,67% serta PT Gorontalo Minerals (GM) dengan kepemilikan 80%, sedang dalam tahap akhir eksplorasi. Produksi keduanya akan dimulai pada 2014.
CPM merupakan pemegang kontrak karya seluas area 138.889 ha di Sulawasi Tengah, dengan cadangan emas 0,7 juta ons. Sementara GM, memiliki luas kontrak karya 36.070 ha tambang emas dan tembaga, dengan cadangan masing-masing 2,5 juta ons dan 2,1 miliar pounds.
"Proyek Liberia, melalui Konblo Bumi Inc. memiliki 7 lisensi untuk bahan tambang berupa permata, emas, berlian, dan mineral lain. Untuk Bumi Resources Japan Company Limited (Bumi Japan), merupakan special purpose vehicle (SPV)," ucap Investor Relation BRM, Herwin W. Hidayat.
Â
Â
(wep/dro)











































