Market Flash eTrading

Market Flash eTrading

- detikFinance
Selasa, 09 Nov 2010 09:51 WIB
Market Flash eTrading
Jakarta - Market Prediction

Indeks Dow Jones kemarin ditutup melemah 37 point (-0.33%) ke level 11,406.84 sehubungan dengan kekhawatiran pasar terhadap krisis keungana di Irlandia akan berpengaruh ke pasar AS, serta aksi profit taking yang dilakukan oleh sebagian besar investor terhadap saham – saham sektor perbankan. Pada perdagangan Senin (8/11) IHSG ditutup menguat 43 point (+1.2%) dan ditutup di all time high di level 3,699.26. Asing tercatat masih melakukan net buy sebesar Rp 203 Miliar dan terlihat sebagian besar masuk di sektor mining. Saat ini IHSG telah menembus level resistance dan besar kemungkinan menuju level 3,750. Hari ini IHSG diperkirakan akan bergerak dikisaran 3,667 – 3,750 dan saham – saham yang dapat diperhatikan antara lain SMCB, INDF, INCO dan BUMI.

News & Analysis

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

FREN: FREN-OSK Nusadana Terbitkan Obligasi Konversi

PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) telah menandatangani perjanjian penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) dan opsi obligasi wajib konversi (opsi OWK) dengan PT OSK Nusadana Securities Indonesia selaku agen yang ditunjuk.Hal ini disampaikan Corporate Secretary FREN Chris Taufik, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin (8/11/2010). Perjanjian tersebut di antaranya mengungkapkan jumlah OWK yang direncanakan diterbitkan perseroan sebesar Rp500 miliar (OWK seri I) yang jatuh tempo pada tahun kel ima setelah tanggal penerbitan.

Comment: Rencana penerbitan OWK FREN menurut kami adalah langkah positif dalam menunjang kelangsungan bisnis FREN. Diharapkan dana dari penerbitan OWK tersebut diguanakan untuk melunasi kewajiban FREN yang akan jatuh tempo dan untuk menunjang bisnis FREN. Kami menilai bahwa saat ini FREN belum menunjukkan kinerja keuangan yang baik. Sebagai informasi, sampai dengan 1H10 FREN tercatat memiliki asset sekitar Rp 5 triliun dengan ekuitas sekitar Rp 354 miliar. Sedangkan penjualan yang berhasil dicapai pada 1H10 sekitar Rp 203 miliar dengan rugi bersih sekitar Rp 437 miliar. Selain itu kami melihat penerbita OWK ini akan menambah cash flow perseroan sehingga dapat membayar hutang bunga obligasi sehingga perdagangan saham perseroan yang saat ini disuspend akan dibuka kembali, namun dapat membuat pemegang saham terdilusi. Perseroan saat ini sudah sulit mengeluarkan Promisory notes seperti dilakukan pada kuartal 1 dan kedua karena sudah tidak ada asset tetap yang memungkinkan untuk dijaminkan. Keterkaitan perseroan dengan group sinar mas semkin kuat sehingga kami memperkirakan perseroan pada akhirnya akan merger dengan Sinar Mas Telecommunication (smart).

WIKA: WIKA Raih Kontrak US$ 170 Juta

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), melalui anak usahanya Wika Intrade Energi, meraih kontrak pasokan batubara dari perusahaan Tiongkok sedikitnya US$ 170 juta atau setara Rp 1.53 Triliun. Kontrak jual -beli batubara tersebut diteken Wika dna STIG Jiangsu Light & Textile Imp & Exp Co Ltd, Tiongkok di Jakarta, Senin (8/11). STIG Jiangsu adalah anak usaha Jiangsu Guaxin Investment Group Limited (JSGX), yang memiliki dan mengoperasikan 23 pembangkit listrik di Tiongkok.

Comment: kami menilai kontrak baru yang diperoleh oleh anak usaha WIKA ini tidak akan berdampak cukup besa r terhadap pendapatan WIKA sebagai induk usaha, karena kontribusi Wika Energi terhadap induknya, terutama dari sektor batubara ini, tidak akan lebih dari 6%. Belum lagi kontribusi total pendapatan anak usaha terhadap pendapatan induk secara konsolidasi tidak lebih dari 30%. Memang hal tersebutlah yang membuat laba per saham WIKA pada Q3 2010 meningkat dari Rp 23.39 menjadi Rp 34.9. Namun dengan proporsi yang tidak terlalu besar itu, maka kami menilai kontrak tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap WIKA selaku induknya. Berdasarkan hasil consensus analis, 5 merekomendasikan Buy, 1 merekomendasikan Hold, dan tidak ada yang merekomendasikan Sell. Target harga consensus adalah Rp 730 per lembar saham.

MAIN: Naik 92.15%, Saham Malindo Masuk UMA

Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan saham PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dalam kategori UMA (unusual market activity) lantaran terjadi kenaikan harga sebesar 92,15% secara tidak wajar. Harga saham MAIN masih berada di level Rp 1.020 pada penutupan 27 Oktober 2010. Pada penutupan 5 November 2010, harga MAIN telah berada di level Rp 1.960 atau naik Rp 940 (92,15%) dari penutupan 27 Oktober 2010.

Comment: Secara periode year-to-date saham MAIN telah mengalami kenaikan sebesar 69%yang ditutup pada level 1,500 dan sempat menyentuh level tertinggi di 2,450 pada perdagangan kemarin. Dimana terlihat pergerakan volume dalam jumlah yang signifikan hanya pada awal November 2010. Investor diharapkan memperhatikan pergerakan volume dari saham perusahaan untuk meminimalisasi risiko likuiditas. Sebagai tambahan informasi pada periode Q2 (cummulative quarters) perusahaan menghasilkan total revenue sebesar Rp. 906.86 miliar atau mengalami penurunan 2% dibandingkan tahun sebelumnya dengan kontribusi dari feedmill 55.02%, boiler 22.83% dan breeder 22.15%.

Economic & Strategy

Industri: Indonesia Targetkan Tembus Semiliar Dolar Investasi AS


Kementerian Perindustrian menargetkan investasi perusahaan Amerika Serika t (AS) di Indonesia menembus 1 miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang, seiring kedatangan Presiden AS Barack Obama. "Investasi AS di Indonesia masih kecil dibanding dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Jepang dan Korea. Saya harap bisa meningkat dengan kedatangan Obama," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Senin. Obama dijadwalkan bertandang ke Indonesia pada 9 -10 November mendatang. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel.

Comment: Kedatangan Presiden AS, Barrack Obama diharapkan dapat memperkuat kerjasama di bidang perdagangan dan investasi. AS kini tercatat sebagai salah satu negara tujuan ekspor terbesar dan sumber investasi penting Indonesia . Menuru t kami dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif hingga saat ini, sektor riil membutuhkan tambahan dana untuk melakukan ekspansi. AS sebagai negara maju diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dana tersebut. Selain itu, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih positif, Indonesia akan banyak membutuhkan kerjasama perdangan khususnya ekspor ke negara maju seperti AS.

Banking: BI Rawat 17 BPR 'Sakit'

Bank Indonesia (BI) kini merawat 17 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam 'ruang' pengawasan khusus atau Special Surveilance Unit. Bank sentral mengaku dengan tingkat pengawasan yang semakin baik jumlah BPR yang masuk SSU semakin berkurang. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia S Budi Rochadi, BPR yang masuk dalam SSU memang sangat kecil jumlahnya. Ia mengatakan dengan pengawasan yang semakin ketat maka efek yang ditimbulkan juga akan semakin baik.

Comment: masalah rendahnya permodalan BPR ini memang sedang menjadi masalah yang cukup serius sekaligus menjadi suatu lahan bagi bank – bank umum yang memiliki permodalan lebih. Masalah karena dengan permodalan yang rendah maka BPR akan sulit menjalankan fungsinya sebagai pemberi kredit baik kepada individu ataupun UMKM, baik dalam bentuk KUR ataupun kredit biasa. Lahan bagi bank umum karena dengan ini bank umum dapat bekerja sama dengan BPR, menyalurkan kelebihan dananya kepada BPR, dan tentu saja akan meningkatkan jumlah LDR bank tersebut dan tentu saja interest income dari kredit yang dikeluarkan. Namun perlu diperhatikan pula tata kelola (management) dari BPR yang sudah ada, bagaimana sistem risk management-nya. Karena apabila sembrono maka salah – salah bukannya meningkatkan interest income justru akan menambah NPL-nya.

 

 

(dro/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads