PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) bersiap melepas sebagian saham mereka di anak usaha PT Wika Beton, melalui Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2012. Manajemen perseroan kini tengah dalam persiapan dan diskusi dengan jajaran Komisaris.
Menurut Direktur Keuangan WIKA, Ganda Saputra, untuk mempersiapkan IPO anak usahanya tersebut, perseroan setidaknya memerlukan waktu dua tahun. Dengan ekuitas yang mencapai Rp 300 miliar, lanjut Ganda, pantaslah WIKA Beton untuk mencatatkan saham perdana di pasar modal.
"WIKA beton ini ekuitasnya Rp 300 miliar. Kalau melihat besaran dan lain-lain, sudah cocok untuk IPO. Memang uang siap dari anak usaha kita adalah WIKA Beton," ungkapnya di Jakarta, Kamis (11/11/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga September 2010, WIKA beton telah meraih laba bersih Rp 66,5 miliar, dan ditargetkan hingga akhir Desember pencapaian laba diharapkan mencapai Rp 70 miliar. Laba akhir tahun ini, bakal lebih tinggi 15% dibandingkan dengan periode yang saham tahun 2009.
Sementara itu, perseroan sendiri telah mencatat kontrak baru dengan total nilai Rp 7,7 triliun hingga awal November 2010. Kontrak yang terakhir di dapat, senilai US$ 173 juta, yaitu pengakutan batu bara ke Cina.
Dan hingga akhir tahun, WIKA menargetkan kontrak baru mencapai Rp 10 triliun dan total kontrak termasuk yang sedang berjalan sebesar Rp 20 triliun.
"Kontrak kita beragam mulai dari pengerjaan sipil, EPC, umum. Kontrak yang dihadapai tahun ini ya sekitar Rp 20 triliun," tutur Direktur Utama perseroan, Bintang Perbowo.
Perseroan juga telah mengerjakan kontruksi PLTD Bali 3x18MW milik PT Indonesia Power. Dalam skema proyek 1 tahun kontruksi dan 8 tahun operasi ini, WIKA setidaknya membutuhkan dana Rp 500 miliar.
Sebagai kebutuhan dana, didapat dari pencairan fasilitas pinjaman dari IKB Deutsche Industriebank sebesar US$ 22 juta. "Pinjaman digunakan untuk pembelian equipment dari Jerman," imbuh Ganda.
(wep/ang)











































