Pada perdagangan Jumat (12/11/2010), saham KRAS turun Rp 60 (4,48%) ke level 1.280. Harga saham KRAS pada hari ini sempat berada di titik terendahnya di 1.250 per lembarnya.
Berdasarkan data BEI, investor asing tercatat masih melakukan aksi jual di saham KRAS meskipun sangat tipis dan tergolong normal. Transaksi beli asing di saham KRAS hari ini sebesar Rp 17,362 miliar, sedangkan transaksi jual asing Rp 52,790 miliar. Sehingga transaksi jual bersih asing (foreign net sell) di saham KRAS sebesar Rp 35,428 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vice President Riset Valbury Asia Futures, Nico Omer Jonckheere mengatakan, tekanan jual atas saham KRAS memang sudah waktunya karena kenaikan yang tajam dalam 2 hari sebelumnya yang sudah sangat tinggi.
Menurut Nico, saham KRAS sampai saat ini pun tergolong mahal untuk perusahaan baja. Apalagi, semenjak listing saham BUMN baja ini naik dari Rp 850 per lembar menjadi Rp 1.250 per lembar, bahkan sempat menyentuh level Rp 1.520. Artinya terdapat marjin 78,82% yang berpotensi menjadi keuntungan investor.
"Sudah waktunya terjadi koreksi yang besar. Dalam dua hari saham KS juga naik tanpa koreksi," ungkap Nico kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (12/11/2010).
Pada hari pertama perdagangan, saham KRAS meroket hingga menyentuh batas atas auto rejection, Rp 420 (49,41%) ke level Rp 1.270 per saham. Saham Krakatau Steel (KRAS) ditutup naik Rp 420 ke Rp 1.270.
Total nilai transaksi saham KRAS mencapai Rp 1,994 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 1.659.950.500 saham. Transaksi beli asing sebesar Rp 33,326 miliar dengan volume 27.819.500 saham. Transaksi jual asing sebesar Rp 412,019 miliar dengan volume 343.949.000 saham. Nilai jual bersih asing (foreign net sell) sebesar Rp 378,693 miliar dengan volume jual bersih sebanyak 316.129.500 saham.
Pada perdagangan hari kedua (11/11/2010), tekanan jual KRAS mereda. Total volume transaksi tercatat sebanyak 1,825 miliar saham senilai Rp 2,527 triliun. Harga saham KRAS bahkan melejit dan sempat menyentuh level Rp 1.520 per saham atau naik 19,68% dari penutupan Rabu kemarin, Rp 1.270 per saham.
Peningkatan tajam terutama ditopang oleh aksi beli massif oleh investor lokal. Pada hari kedua perdagangannya, Kamis kemarin transaksi beli asing sebesar Rp 35,869 miliar, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 51,888 miliar. Sehingga transaksi jual bersih asing (foreign net sell) hanya sebesar Rp 16,018 miliar.
"Selama level support berada di kisaran 3.535, penurunan tidak terlalu dikhawatirkan. Penurunan wajar dan diperkirakan masih akan terjadi pada pekan depan. Saya pikir PE 16-17 kali, dengan saham yang sekarang sudah cukup mahal," ucap Nico.
(wep/qom)











































