IHSG Diterpa Sentimen China dan Irlandia

Ulasan Sepekan

IHSG Diterpa Sentimen China dan Irlandia

- detikFinance
Senin, 15 Nov 2010 07:14 WIB
Jakarta - Setelah sempat menyentuh level tertinggi baru di 3756.97, IHSG pada akhirnya tidak kuat menahan derasnya aksi profit taking pada sesi akhir perdagangan pekan lalu, dimana IHSG terkoreksi sebesar 2,1% dalam sehari dan ditutup pada level 3665,8.

Hal yang sama juga terjadi pada Rupiah dimana menurut catatan BI nilai tengah rupiah pada perdagangan pekan lalu ditutup melemah pada angka 8.918 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh angka Rp 8.888 per dolar AS.

"Aksi profit taking yang dilakukan investor pada akhir pekan lalu memanfaatkan pelemahan yang terjadi pada bursa regional yang dipicu oleh kekhawatiran bahwa China akan mengeluarkan kebijakan pengetatan likuiditas sebagai dampak dari tingginya inflasi di China," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (15/11/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, kabar tersebut juga diperburuk oleh sentimen negatif mengenai krisis hutang Irlandia sehingga memperkuat alasan investor untuk keluar sementara dari bursa.

Seperti diketahui pekan lalu, pemerintah China mengumumkan bahwa tingkat inflasi negara tersebut pada bulan oktober mengalami lonjakan tertinggi dalam 25 bulan terakhir. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mendorong pemerintah China untuk mengeluarkan kebijakan pengetatan likuiditas dengan menaikkan suku bunga acuannya.

"Tentunya kebijakan pengetatan likuiditas memberikan sentimen negatif ke bursa saham, mengingat terdapat korelasi negatif antara pergerakan suku bunga dengan pergerakan bursa saham," jelas Fikri.

Sebagai dampaknya, lanjut Fikri, bursa saham Shanghai mengalami penurunan terburuknya selama kurun waktu hampir 14 bulan terakhir. Kondisi yang terjadi di China memberikan pengaruh langsung ke negara lainnya di Asia mengingat Investor menafsirkan bahwa apa yang terjadi di China juga akan terjadi di negara-negara lainnya di Asia, terutama negara yang selama ini telah kebanjiran capital inflow. Sehingga tidak mengherankan bursa-bursa saham di emerging market mengalami koreksi yang cukup dalam pada akhir pekan lalu.

Sentimen dari China tersebut diperparah oleh sentimen negatif dari Eropa dimana pada perdagangan akhir pekan lalu bursa-bursa di Eropa ditutup menurun sebagai akibat dari meningkatnya kekhawatiran atas masalah utang Irlandia yang juga menyeret euro ke level terendah dalam enam minggu terhadap dolar.

Kembali mencuatnya kabar mengenai krisis utang eropa dipicu oleh pernyataan Jerman yang mengusulakan agar investor yang memegang surat utang pemerintah anggota Uni Eropa ikut menanggung biaya penyelamatan jika terjadi krisis pada masa mendatang.

"Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran dipasar, dan mulai menata kembali portfolionya di pasar keuangan Eropa. Dampak langsung dirasakan oleh irlandia, dimana Investor terus menekan harga obligasi pemerintah Irlandia sehingga imbal hasilnya terbang tinggi," papar Fikri.

Akibatnya, muncul kekhawatiran pemerintah Irlandia tidak mampu membeli kembali obligasinya. Dalam hal ini, Bank Sentral Eropa telah mendorong Irlandia untuk meminta bantuan institusi keuangan dunia untuk menyelesaikan permasalahan utangnya bila memang dibutuhkan. IMF bahkan telah mengeluarkan sinyalemen positif untuk membantu Irlandia menyelesaikan permasalahan utangnya walaupun IMF belum mendapat permintaan resmi dari Irlandia.

Guna meredam kekhawatiran investor terhadap kemampuan Irlandia dalam membayar utangnya, para pemimpin Uni Eropa menjamin bahwa Irlandia mempunyai kapasitas yang cukup untuk menyelesaikan permasalahannya. Lebih lanjut, para pemimpin Uni eropa ini juga mengeluarkan pernyataan pada KTT G20 di Seoul bahwa dalam merestrukturisasi utang setiap negara Uni Eropa, investor yang memegang obligasi negara Eropa tidak akan dipaksa untuk ikut menanggung beban bila memang nantinya terjadi krisis.

"Meningkatnya kembali sentimen krisis utang eropa akan menjadi sentimen negatif yang akan menekan bursa saham diseluruh dunia pekan ini. Hal tersebut juga akan berimbas ke bursa Indonesia dan menekan bursa saham indonesia minggu ini, mengingat selama ini investor asing masih menjadi motor penggerak bursa saham Indonesia," jelas Fikri.

"Lebih lanjut, IHSG pekan ini diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah sebagai cermin dari sikap wait and see investor asing terhadap perkembangan krisis utang Irlandia," imbuhnya.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads