Market Flash eTrading

Market Flash eTrading

- detikFinance
Senin, 15 Nov 2010 10:06 WIB
Market Flash eTrading
Jakarta - Market Prediction

Pada hari Jumat (12/11) Indeks Dow Jones ditutup melemah 90 point (-0.8%) ke level 11,192.58 dikarenakan kekhawatiran terhadap hutang Irlandia dan juga terhadap China yang berspekulasi akan melakukan pengetatan moneter. IHSG sendiri ditutup melemah 78 point (-2.1%) di kisaran level 3665, asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 360 miliar. Pelemahan ini terjadi karena alasan yang sama yaitu kekhawatiran terhadap hutang Irlandia dan juga terhadap China yang berspekulasi akan melakukan pengetatan moneter, dari chart sendiri terlihat stochastic telah melakukan death cross di area overbought dan RSI turun menuju area garis 50% sehingga pada hari ini IHSG diperkirakan akan berada dikisaran 3635 – 3700 dengan saham – saham yang dapat diperhatikan antara lain saham – saham blue chip pada saat terjadi reversal sign.

News & Analysis

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

KARK: Laba Bersih KARK Naik 756,8%


PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK) mencatat kenaikan drastis di laba bersih kuartal III -2010 sebesar 756,8 persen dar Rp8,171 miliar di kuartal III-2010 menjadi Rp70,017 miliar per 30 September 2010. Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama KARK Sudiro Andi Wiguno kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Jumat (12/11/2010). Seperti tercantum dalam laporan keuangannya, kenaikan laba bersih tersebut berasal dari kenaikan pada penjualan bersih perseroan menjadi Rp1,26 triliun di kuartal III tahun ini atau meningkat 933,6 persen jika dibandingkan dengan penjualan bersih di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp122 miliar. Padahal, beban pokok penjualan perseroan juga mengalami kenaikan 17,3 persen di kuartal III-2010 dari Rp96,37 miliar di kuartal III-2009 menjadi Rp1,13 triliun di kuartal III-2010. Meskipun demikian, kenaikan beban pokok penjualan tak begitu berpengaruh terhadap laba kotor perseroan yang melonjak 424 persen menjadi Rp131,1 miliar di kuartal III -2010 dari Rp25,6 miliar di periode yang sama tahun lalu.

Comment: Kami melihat peningkatan kinerja keuangan KARK yang berasal dari peningkatan penjualan, menjadi faktor utama dalam pertumbuhan bisnis KARK. Efisiensi pada cost of revenue menurut kami adalah upaya yang tepat dalam pencapaian pertumbuhan kinerja keuangan. Hal ini tentunya harus didukung pula dengan strategi yang matang dalam permodalan khususnya debt financing dan efisiensi di semua lini.Hal tersebut jika tetap didukung dengan pertumbuhan penjualan yang baik, secara signifikan akan menciptakan pertumbuhan kinerja keuangan yang spektakuler pada masa mendatang.

ADHI: Garap Konstruksi Bandara AP II Rp 198 Miliar

Perusahaan jasa konstruksi PT AdhiKarya Tbk mendapatkan kontrak pekerjaan konstruksi 2 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II dengan total nilai Rp198 miliar. BUMN itu mendapatkan kontrak pembangunan apron di Terminal3 Pier 1 Bandara Soekarno-Hatta dan penebalan landas pacu Bandara Husein Sastranegara.

Comment: Penambahan kontrak baru tersebut menambah total kontrak yang sampai saat ini berjumlah Rp. 4,1 triliun dari target Rp. 8.2 triliun. Jumlah kontrak tersebut masih diluar rencana kontrak yang sedang dikerjakan yaitu pembangunan 5 (lima) ruas jalan tol yang membutuhkan biaya Rp 2,7 triliun dan pembangunan proyek PLN 10.000 MW dengan nilai kontrak sebesar Rp 1.6 triliun. Apabila kedua potesial proyek tersebut berhasil digarap oleh ADHI, maka ADHI akan berhasil mencapai target kontrak 2010 ini. Menurut laporan keuangan yang dipaparkan di Investor Summit beberapa hari yang lalu, per September 2010 (Q3) ADHI sudah aberhasil membukukukan laba bersih sebesar Rp. 75 miliar, atau naik 18% dari periode yang sama tahun 2009, walaupun dengan jumlah perolehan pendapatan yang menurun sebesar 37% dan penurunan yang cukup drastis pula di Cost of Contracts (HPP) sebesar 40% sehingga mampu menggenjot laba bersih perusahaan ini. Dengan mempertahankan “cost of contra ct” tersebut dan target yang tercapai, maka laba bersih perusahaan mungkin juga akan bisa meningkat cukup besar yang otomatis juga mengangkat EPS perusahaan ADHI juga. Survey dari Bloomberg menyatakan: Buy:3, Holds:2 dan Sell:0. Target Prrice: Rp. 995.

BBRI: Ditolak Bukopin, BRI Tak Niat Akuisisi Bank Lain

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menghormati keputusan dari manajeman PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) yang menolak pinangan akuisisi dari perseroan. Penolakan ini karena BRI ingin jadi pemilik mayoritas atas saham BBKP. Namun demikian segala kesempatan untuk masuk dalam kepemilikan saham Bukopin masih bisa terjadi. Pasalnya sampai dengan saat ini, belum ada pernyataan resmi dari BBKP atas penolakan tersebut. BRI pun usai penolakan ini, tidak lagi ekspansif untuk mengakuisisi bank. Setelah resmi mendapatkan Bank Agroniaga, perseroan akan fokus untuk membangun BRI ke depan.

Comment: kami menilai langkah BRI ini sudah cukup baik, bahkan langkah BRI untuk akuisisi Bukopin ini terlihat sedikit aneh karena line bisnis yang sama, dimana dengan Agroniaga masih dapat dikatakan wajar karena line bisnis yang berbeda. Namun memang dalam membangun bisnisnya ini BRI hanya memiliki opsi yang sedikit, salah satunya dengan akuisisi atau menahan dividen payout-nya. Berdasarkan analis consensus, 23 merekomendasikan Buy, 6 Hold, dan 2 Sell. Dengan target price rata – rata sebesar Rp 12,859 per lembar.


Economic & Strategy

Regional: Stimulus Besar-besaran AS Bahayakan Ekonomi Asia


Stimulus yang digelontorkan AS melalui kebijakan 'Quantitative Easing' tahap II senilai US$ 600 miliar bisa membahayakan perekonomian Asia. Gelontoran dana itu dikhawatirkan bisa memicu inflasi atas aset-aset di Asia yang pada akhirnya bisa memicu terulangnya krisis seperti era 1997-1998. "Saya sangat khawatir tentang dampak kebijakan 'quantitative easing' tahap II AS," ujar Chief Executive Hong Kong, Donald Tsang mengacu pada keputusan The Fed untuk menyiapkan likuiditas hingga US$ 600 miliar dalam rangka menggairahkan lagi perekonomian AS. Bank Sentral AS (Federal Reserve) sebelumnya memutuskan kebijakan 'quantitative easing' tahap II yang bernilai US$ 600 miliar. Dengan kebijakan itu, The Fed akan membeli surat berharga pemerintah AS senilai US$ 75 miliar dalam 8 bulan ke depan.

Comment: Rencana stimulus besar-besaran yang akan dilakukan AS, menurut kami adalah strategi yang cukup baik dalam usaha recovery perekonomian AS. Namun strategi ini berpotensi membawa dampak bagi perekonomian Asia khususnya negara emerging market. Dengan stimulus tersebut, AS akan melemahkan matauangnya terhdap matauang negara lain. Da mpak positif bagi AS adalah harga produk (barang ekspor) AS akan lebih kompetitif di negara lain. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor melalui permintaan akan produk AS. Dengan demikian aktivitas produksi meningkat dan membawa dampak positif pada tingkat pengangguran. Permintaan akan produk AS yang terus meningkat, akan meningkatkan roda perekonomian AS. Bagi perekonomian asia, rencana stimulus AS dalam mem-buy back surat berharga pemerintah AS akan menyebabkan pasokan dolar AS yang berlebihan di pasar. Dengan likuiditas yang membanjir akibat adanya kebijakan tersebut, plus tingginya imbal hasil di Asia, maka dipastikan aliran dana pun akan semakin deras ke pasar Asia yang pada akhirnya meningkatkan risiko bubble khususnya pada aset -aset sekuritas (saham dan obligasi) serta properti.

 

 

(dro/dro)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads