Bursa Asia Berjatuhan Akibat China dan Krisis Irlandia

Bursa Asia Berjatuhan Akibat China dan Krisis Irlandia

- detikFinance
Rabu, 17 Nov 2010 17:32 WIB
Bursa Asia Berjatuhan Akibat China dan Krisis Irlandia
Tokyo - Bursa-bursa Asia sebagian besar berjatuhan menyusul kekhawatiran akan hadirnya kebijakan ketat dari China dan krisis utang di Irlandia. Hanya Bursa Jepang yang masih bergerak positif.

Investor dibuat khawatir oleh komentar dari Perdana Menteri China, Wen Jiabao yang mengatakan akan mengeluarkan kebijakan baru untuk meredam lonjakan inflasi hingga 4,4% selama Oktober.

"Perhatian yang besar harus diberikan ke pasar permintaan dan pasokan dan harga-harga karena mereka berhubungan dengan suku bunga dasar publik. Negara sedang membuat formulasi kebijakan guna meredam kenaikan harga-harga yang sangat cepat dan berlebihan," ujar Wen dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Rabu (17/10/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini berarti China akan segera menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Analis memrediksi kenaikan suku bunga China akan segera diumumkan pada pekan ini.

"China ingin mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa pada saat ini mereka serius melawan inflasi, mengurangi kelebihan likuiditas dan mengkontrol aliran modal yang spekulatif," ujar Danny Yan, analis dari Tai Fook Asset Management seperti dikutip dari Reuters.

Kekhawatiran lain berasal dari krisis utang di kawasan Eropa. IMF dan Inggris kini sedang menyiapkan rencana darurat untuk menyelamatkan sektor perbankan Irlandia agar tidak merembet ke kawasan Eropa lainnya.

Pergerakan bursa Asia Pasifik pada Rabu ini mayoritas negatif, dengan bursa Hong Kong jatuh paling dalam. Hanya Bursa Tokyo yang masih positif.

  • Indeks Hang Seng merosot 478,56 poin (2,02%) ke level 23.214,46.
  • Indeks Komposit Shanghai merosot 55,68 poin (1,92%) ke level 2.838,86.
  • Indeks S&P/ASX melemah 76 poin (1,62%) ke level 4.624,3.
  • Indeks Nikkei-225 menguat tipis 14,56 poin (0,15%) ke level 9.811,66.

Investor di Jepang masih positif karena meyakini perusahaan-perusahaan di negara tersebut terlihat sudah semakin sehat. Bursa Tokyo juga tertopang oleh penguatan dolar AS atas yen sehingga diharapkan bisa mendukung ekspor negara tersebut.

"Investor mulai fokus pada saham-saham di Jepang karena sudah pada posisi outperform dibandingkan pasar lainnya dari awal bulan ini setelah mengalami ketertinggalan untuk sekian lama," ujar Yutaka Yoshii, analis dari Mito Securities.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads