Market Flash eTrading

Market Flash eTrading

- detikFinance
Kamis, 18 Nov 2010 09:27 WIB
Market Flash eTrading
Jakarta - Market Prediction

Indeks Dow Jones kemarin (17/11) ditutup melemah 15 point (- 0.14%) ke level 11,007.88 dikarenakan investor masih menunggu hasil IPO dari General Motors serta kekhawatiran yang masih melanda pasar AS atas krisis ekonomi yang terjadi di Irlandia serta rencana China yang akan menaikkan tingkat suku bunganya. Sementara di Indonesia IHSG ditutup menguat 17 point (+0.48%) ke level 3,674.03 pada perdagangan hari Selasa (16/11) kemarin. Asing masih tercatat melakukan net sell sebesar Rp 188 miliar. Meskipun demikian, secara teknikal IHSG masih dalam fase bullish, terlihat dari RSI yang melakukan rebound di garis 50%. Sehingga pada perdagangan hari ini (18/11) IHSG diperkirakan akan bergerak dikisaran 3,635 – 3,700 dengan saham – saham yang diperhatikan a.l. BNBR, ADRO, INCO dan DOID.

News & Analysis

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

BRAU: Rothschild Ambil Alih Berau dan Bumi Resources Rp 27 T


Vallar Plc, perusahaan raksasa milik keluarga Rothschild mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan 25% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun. Vallar Plc merupakan perusahaan investasi milik keluarga Rothschild yang merupakan bankir terkaya di dunia. Vallar baru saja menggelar IPO raksasa di Bursa London senilai US$ 1,07 miliar atau Rp 9 triliun pada Juli 2010. Harga akuisisi saham BRAU akan dilakukan pada Rp 540 per saham, sedangkan harga akuisisi BUMI di harga Rp 2.500 per saham.

Comment: pada equity swap ini terdapat keanehan dimana BNBR melakukan swap 25% saham BUMI dengan kepemilikan di Valla r PLC tetapi menurut data di Bloomberg kepemilikan BNBR di BUMI pada saat ini hanya mencapai 7.54% sehingga terlihat selisih sebesar 18% dan Vallar sendiri merupakan perusahaan yang baru melakukan IPO sebesar USD1.07 milliar pada july 2010 demgan asset hanya USD1.057 dimana 1.022milliar merupakan cash dan jika Vallar PLC akan mengambil alih 75% saham BRAU, dengan ini maka PT Bukit Mutiara, anak usaha Recapital Advisors melepaskan 75% sahamnya di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan akan memperoleh dana tunai Rp 6,596 triliun dan 24,9% saham Vallar Plc, perusahaan milik keluarga Rothschild. Pada saat corporate action ini sudah selesai maka komposisi kepemilikan saham akan menjadi BNBR sebesar 43% dan Recapital 24.9%. Sehingga pada saat laporan konsolidasi keuangan nanti, sebesar 43% dari Net Income Valla r akan masuk ke BNBR atau 32.25% Net Income BRAU dan 10.75% Net Income BUMI akan masuk pada pendapatan lain – lain BNBR.

MPPA: Wal-Mart, Casino, Lotte, dan Lippo 'Incar' Hypermart

Tiga peritel besar asing dikabarkan tengah mengincar salah satu perusahaan ritel besar Indonesia yaitu Hypermart, yang merupakan unit usaha PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Menurut sumber -sumber yang dilansir Reuters, 3 peritel asing yang tengah mengincar hypermart adalah Wal -Mart, Casino, dan Lotte. Nilai penjualan Hypermart dikabarkan bisa mencapai US$ 1 miliar.

Matahari memang saat ini diisukan akan menjual unit usaha ritelnya tersebut karena akan fokus di bisnis utamanya yaitu di bidang kesehatan dan properti. Perusahaan milik Lippo Group ini ingin merestrukturisasi asetnya untuk mengoptimalkan bisnis ritel yang ada di Hypermart. Hypermart merupakan jaringan bisnis ritel terbesar kedua di Indonesia setelah Carrefour.

Comment: Setelah menjual matahari departemen store saat ini diisukan, perseroan akan menjual unit hypermarketnya yakni hypermart, bila hal ini benar maka penjualan ini akan meningkatkan laba karena adanya one time gain dari penjualan tersebut namun setelah itu 96% pendapatan perseroan dari hypermart akan hilang dan usaha perseroan tinggal time zone dimana kontribusinya hanya 4%, dengan cash yang besar. Kami melihat tanpa adanya bisnis plan yang jelas, setelah penjualan hypermart akan merugikan shareholder terutama minority. Berdasarkan consensus analis, 1 merekomendasikan Buy, 1 Sell, dan tidak ada yang merekomendasikan Hold.

Economic & Strategy

Ekonomi: Bapepam Tak Setuju Dana Asing Dikenai Pajak

Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menegaskan kebijakan penerapan pajak untuk aliran modal asing yang masuk (capital inflow) tidak akan dilakukan. Bapepam-LK mengatakan pemerintah tidak akan menetapkan skema pengendalian modal asing (capital control) pada saat ini. Demikian diungkapkan oleh Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany ketika ditemui di sela acara Infobank Outlook 2011 di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (16/11/2010).

Comment: Menurut kami rencana capital control menskipun dinilai dapat menreduksi volatilitas pasar modal dan rupiah, akan mengganggu iklim investasi di Indonesia. Langkah yang tepat dalam mencegah aliran modal asing keluar (capital outflow) adalah dengan mekanisme pengendalian dan pemanfaatan modal asing yang tepat guna. Dengan kondisi ekonomi yang kondusif - tercermin dari beberapa indikator ekonomi, kami percaya bahwa Indonesia masih menjadi alternatif bagi pemodal asing untuk berinvestasi. Namun hal ini perlu didukung dengan penyediaan infrastruktur yang memadai, kebijakan ekonomi pemerintah, kepastian hukum, dan stabilitas politik keamanan.

Infra: Jembatan Selat Sunda tetap dibangun

Pemerintah menegaskan nilai investasi megaproyek pembangunan jembatan Selat Sunda sampai saat ini masih bersifat fluktuatif, hingga hasil studi kelayakan proyek rampung dilaksanakan. Namun, pemerintah memastikan jembatan sepanjang 30 kilometer ini tetap dilanjutkan karena telah menjadi salah satu proyek prioritas.

Comment: Pembangunan Jembatan Selat Sunda ini sebelumnya masih merupakan "Potential Project" menurut data yang diberikan oleh Departemen Pekerjaan Umum (Daftar proyek "PPP"). Menurut data yang diberikan mega proyek tersebut akan menelan biaya sebesar USD 11 milar ( Rp. 99 trilun, dengan kurs Rp. 9000,- per USD). Apabila proyek tersebut sudah masuk dalam kategori "Priority Projects" maka sebenarnya proyek tersebut sudah akan masuk dalam proses "Under Tender Preparation" yang artinya masalah kelayakan proyek tersebut sangatlah mungkin sudah matang dibahas, baik dari sisi cara pembiayaan maupun kelayakan daerah pembangunannya (baik kondisi lingkungan maupun teknisnya).Menanggapi berita tersebut, ini merupakan suatu proyek yang sangat strategis, baik bagi perusahaan konstruksi, maupun perusahaan yang akan menjalankannya (operatornya), dimana akan sangat berpotensi memberikan keuntungan yang sangat relative besar. Namun, pemerintah sudah belajar dari mega proyek yang sebelumnya dilakukan di DKI Jakarta, seperti proyek Monorail, yang akhirnya harus terhenti oleh karena masalah pendanaan. Proyek tersebut akan mengundang banyak perusahaan-perusahaan konstruksi yang besar dan berpengalamn seperti Adhi Karya (ADHI), Wijaya Karya (WIKA), PT.PP ataupun perusahaan swasta lainnya seperi DGIK. Tidak menutup kemungkinan juga akan mengundang partner asing sebagai konsultan dan Co partner proyek.


 

 

(dro/dro)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads