"Sebagian investor asing menjual obligasi bertenor panjang, untuk dipindahkan ke obligasi yang bertenor pendek," ujar Eli Djurfanto, Head of Fixed Income First State Investments Indonesia dalam siaran persnya, Jumat (19/11/2010).
Eli memperkirakan, dengan quantitative easing 2 (QE2) yang diputuskan pemerintah AS akan menambah jumlah aliran dana masuk dari luar negeri. Efeknya, yield obligasi akan tetap bertahan atau bahkan bisa juga turun beberapa basis point lagi, tetapi tidak akan jauh dari posisi sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, kepemilikan asing yang telah melebihi 30% dari obligasi pemerintah akan berisiko bagi pasar obligasi, terutama pada saat mereka melakukan penarikan dana atau seperti saat ini ketika para investor asing melakukan rebalancing sehingga volatilitas pasar obligasi tinggi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, reksa dana First State Indonesian Bond Fund (disingkat FSI Bond Fund) telah menetapkan durasi portofolionya relatif pendek (3,8 tahun), dengan sebagian besar portofolio FSI Bond Fund adalah obligasi bertenor sangat pendek.Menurut Eli, hal ini sebagai upaya untuk mengurangi volatilitas FSI Bond Fund serta sebagai antisipasi akan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia di tahun 2011. (qom/dnl)











































