4 Topik Bursa Saham Pekan Ini

Ulasan Sepekan

4 Topik Bursa Saham Pekan Ini

- detikFinance
Senin, 22 Nov 2010 07:01 WIB
Jakarta - Setelah bergerak sangat fluktuatif pekan lalu, IHSG pada akhirnya ditutup pada level 3725.048 atau menguat 1.86% dibandingkan penutupan pada akhir pekan sebelumnya. Seperti halnya IHSG yang bergerak fluktuatif, nilai tengah rupiah juga pada akhirnya ditutup menguat pada level Rp 8.937 per dolar AS.

"Penguatan IHSG dan Rupiah yang terjadi pada sesi akhir perdagangan pekan lalu di dorong oleh sentimen bahwa Bank Uni Eropa serta IMF telah mendekati kesepakatan untuk membantu Irlandia dalam menyelesaikan permasalahan utangnya," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (22/11/2010).

Kondisi tersebut, menurut Fikri pada akhirnya menumbuhkan kepercayaan investor untuk kembali masuk ke pasar. Namun demikian kondisi tersebut masih bersifat sementara mengingat pasar masih sangat menghawatirkan dampak dari krisis Irlandia tersebut ke negara lainnya di Eropa serta kekhawatiran buruknya kabar dari Amerika dan China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fikri mengungkapkan, setidaknya ada 4 topik yang akan menjadi trigger bagi investor untuk masuk kepasar pada pekan ini.

Pertama adalah mengenai krisis utang Irlandia. Seperti diketahui pekan lalu Uni Eropa mengabarkan bahwa Irlandia telah mendekati kesepakatan untuk mendapatkan bantuan senilai 15 miliar euro dari institusi keuangan Uni Eropa serta IMF. Namun demikian, realisasi dari kesepakatan antara UE, IMF serta Irlandia tersebut akan diumumkan pekan ini bersamaan dengan pemamparan pemerintah Irlandia terhadap rencana fiskalnya untuk 4 tahun kedepan.

"Kabar dari Irlandia tersebut akan menjadi fokus investor pekan ini mengingat kelancaran proses bailout Irlandia tersebut akan meredam kekhawatiran investor terhadap krisis hutang Irlandia dan memberikan sentimen positif ke pasar," jelas Fikri.

Disamping perkembangan penyelesaian hutang Irlandia, pasar juga memberikan perhatiannya terhadap kemungkinan menularnya krisis Irlandia ke negara lainnya di Eropa. Saat ini investor fokus terhadap kondisi Portugal yang mempunyai karakterisik yang sama dengan Irlandia yaitu porsi hutangnya yang besar.

"Pasar mengidentifikasi Portugal akan menjadi korban krisis hutang berikutnya mengingat harga obligasi pemerintah portugal mulai tertekan dan yieldnya merangsek naik. Kondisi tersebut dipercaya akan mendorong investor untuk terus memantau perkembangan ekonomi portugal tersebut," imbuhnya.

Diluar kabar dari Eropa tersebut, pasar juga akan fokus terhadap data ekonomi yang akan dikeluarkan pemerintah Amerika pada pekan ini, seperti data mengenai tingkat penjualan retailer. Perlu diketahui bahwa Amerika pekan ini akan merayakan hari Thanksgiving, suatu perayaan yang sangat identik dengan aktifitas belanja besar-besaran masyarakat Amerika.

Pasar menanti apakah laporan penjualan retailer Amerika selama pekan ini akan memberikan sentimen positif ke pasar. Dalam hal ini, pasar sangat berharap akan terjadi lonjakan penjualan retailer selama pekan ini yang berarti bahwa kepercayaan konsumen Amerika untuk berbelanja terus tumbuh sehingga memberi gambaran bahwa permintaan pasar domestik Amerika masih cukup kuat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi Amerika.

"Sentimen positif mengenai data penjualan retailer tersebut akan menimbulkan kepercayaan investor bahwa proses pemulihan ekonomi Amerika berada pada jalur yang benar," jelasnya.

Sedangkan dari Asia, kabar yang paling menjadi pusat perhatian investor adalah langkah terbaru China untuk meredam inflasi yang melambung dengan melakukan pengetatan likuiditas sehingga menimbulkan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global. Sejauh ini China dikenal sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia dan sangat berperan dalam proses pertumbuhan ekonomi dunia.

"Apabila China melakukan pengetatan likuiditas maka dikhawatirkan permintaan dari pasar China akan turun dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia," ujar Fikri.

Empat isu pokok yang akan menjadi pusat perhatian investor tersebut menurut Fikri akan menjadi trigger terhadap arah pergerakan bursa saham di seluruh dunia pekan ini, termasuk di Indonesia.

"Namun demikian mengingat IHSG pekan lalu mampu menembus level resisten 3700 maka pada pekan ini IHSG masih membuka peluang untuk meneruskan penguatannya walaupun tidak signifikan karena masih banyaknya sentimen negatif dari Eropa dan China," imbuhnya.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads