Investor dalam negeri terutama investor ritel diperkirakan akan menyambut baik rencana dibukanya daftar nasabah atau investor pembeli saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) pada saat penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) awal bulan lalu.
Selama ini, investor ritel domestik merasa sebagai investor kelas dua karena seringkali banyak pihak lain mendapatkan perlakuan yang 'istimewa'.
"Salah besar kalau dikatakan investor akan takut jika data tersebut dibuka. Kalau dibukanya dengan serampangan, memang bisa takut. Tapi kalau dibukanya sesuai aturan, investor justru senang," kata Ekonom Dradjad Wibowo kepada detikFinance, Senin (22/11/2010).
Menurutnya, selama ini sudah bukan rahasia lagi jika dalam privatisasi perusahaan pelat merah selalu ada pihak-pihak yang mendapat perlakuan 'istimewa.' Investor domestik seringkali hanya kebagian jatah dengan porsi yang terbatas karena perlakuan istimewa kepada pihak lain tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menguntungkan, dibukanya data investor pembeli saham perusahaan baja pelat merah itu diharapkan bisa meredam polemik yang terjadi sekarang ini, di mana banyak pihak menduga ada beberapa pejabat pemerintah serta anggota DPR yang kebagian untung dari naiknya harga saham KS saat IPO.
Sebelumnya, pemerintah memang sudah berniat untuk membuka data mengenai pihak mana saja yang menjadi investor atau pembeli saham perdana IPO KS. Hal ini dilakukan untuk memberikan transparansi kepada masyarakat.
Namun, langkah ini tidak berjalan mulus karena menurut Bapepam-LK membuka data nasabah itu bertentangan dengan UU Pasar Modal yang menyebutkan bahwa data tersebut merupakan rahasia nasabah.
Dengan adanya polemik ini, berbagai pihak kemudian mendesak data nasabah IPO KS tersebut dilakukan audit investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Salah satu pihak yang mendesak hal tersebut adalah DPR. (ang/dnl)











































