Konflik Duo Korea dan Krisis Irlandia Rontokkan Wall Street

Konflik Duo Korea dan Krisis Irlandia Rontokkan Wall Street

- detikFinance
Rabu, 24 Nov 2010 07:10 WIB
Konflik Duo Korea dan Krisis Irlandia Rontokkan Wall Street
New York - Saham-saham di bursa Wall Street langsung rontok akibat memanasnya konflik antara Korea Selatan dan Korea Utara, ditambah masalah krisis utang Irlandia yang dikhawatirkan menular ke negara lain.

Seperti diketahui, konflik antara Korsel-Korut memanas setelah Korut menembakkan artilerinya ke salah satu kepulauan di Korsel. Ini adalah serangan terbesar Korut ke Korsel setelah perang duo Korea itu di akhir 1953.

Pada perdagangan Selasa (23/11/2010), indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 142,21 poin (1,27%) ke level 11.036,37. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 17,11 poin (1,43%) ke level 1.180,73 dan Nasdaq merosot 37,07 poin (1,46%) ke level 2.494,95.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indeks Volatilitas CBOE Volatility yang merupakan panduan kekhawatiran investor melonjak hingga 12,3%, yang merupakan kenaikan harian terbesar dalam 3 bulan terakhir.

Jeff Kleintop, chief market strategist LPL Financial mengatakan, berita-berita tersebut mengingatkan para pialang tentang bagaimana mudahnya pasar terganggu oleh masalah geopolitik.

"Karena kita bergerak ke tahun 2011, fokus Presiden Barack Obama pada kebijakan domestik akan banyak berkurang dan lebih banyak fokus pada kebijakan luar negeri, mengkonfrontasi beberapa rezim disana. Dan itu mungkin berarti risiko premium geopolitik akan meningkat," ujar Kleintop seperti dikutip dari Reuters, Rabu (24/11/2010).

Padahal pasar sebelumnya telah mendapatkan sentimen negatif dari krisis utang Irlandia. Meski Uni Eropa, sejumlah negara Eropa dan IMF telah sepakat untuk menolong negara tersebut, namun diyakini tidak akan cukup untuk mengatasi krisis agar tidak menular ke negara lain.

Situasi Irlandia yang tidak pasti itu sebelumnya telah menekan euro yang pada akhirnya berkontribusi juga melemahkan harga-harga saham.

Indeks sektor energi, GSPE memimpin pelemahan S&P 500 dengan penurunan sebesar 1,9% seiring anjloknya harga minyak mentah hingga 0,6% menjadi US$ 81,25 per barel. Saham Chevron dan Exxon Mobil masing-masing turun 2% dan memberikan kontribusi hingga 15,5% pada anjloknya indeks Dow Jones.

Perdagangan berjalan sepi dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 7,6 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun ini sebesar 8,7 miliar lembar.
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads