Irlandia Terima Bailout, Euro Malah Terpuruk

Irlandia Terima Bailout, Euro Malah Terpuruk

- detikFinance
Senin, 29 Nov 2010 10:35 WIB
Tokyo - Mata uang tunggal, euro langsung melorot ke titik terendahnya dalam 2 bulan terakhir setelah Irlandia secara resmi akan menerima bailout sebesar 85 miliar euro atau setara dengan US$ 113 miliar.

Pada perdagangan Senin (29/11/2010) di bursa Tokyo, euro sempat merosot hingga 1,3181 dolar, sebelum akhirnya pulih ke 1,3220 dolar dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 1,3247 dolar. Euro juga melemah atas yen ke posisi 111,14 yen, dibandingkan sebelumnya di 111,30 yen.

Mengawali perdagangan Senin ini, euro sebenarnya langsung menguat setelah pemerintah Irlandia pada Minggu mengumumkan bailout senilai 85 miliar euro. Namun secara perlahan, euro kehilangan kekuatannya dan justru melemah ke titik terendahnya dalam 2 bulan terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Euro justru melemah karena kekhawatiran dua negara Eropa lain yakni Spanyol dan portugal kemungkinan akan segera menerima nasib yang sama dengan Irlandia.

"Paket penyelamatan Irlandia mungkin memberikan stabilitasi sedikit, namun pada akhir perdagangan pasar masih sangat sangat tertarik dengan apa yang terjadi pada Portugal dan Spanyol," ujar Stuart Ive, pialang senior dari HiFX seperti dikutip dari AFP.

"Di saat perbankan Irlandia dan juga Irlandia sudah terselesaikan, masih ada kekhawatiran seputar dua negara lain," tambahnya.

Osamu Takashima, kepala analis valas dari Citibank Japan mengatakan, euro kemungkinan melemah hingga 1,3100 dolar dalam jangka pendek.

Seperti diketahui, Irlandia akhirnya disepakati menerima bailout dari Uni Eropa dan IMF senilai 85 miliar euro, termasuk di dalamnya 35 miliar euro untuk sistem perbankan Irlandia.

Perdana Menteri Irlandia, Brian Cowen menegaskan, bailout tersebut merupakan kesepakatan terbaik yang ada bagi Irlandia dan seluruh masyarakatnya.

"Kesepakatan program akhir menyatakan keputusan terbaik yang ada untuk Irlandia. Hal ini memungkinkan kita untuk bergerak maju dengan keamanan pendanaan bagi sektor publik kita yang penting, untuk kemakmuran negara, bagi anggota yang paling rentan dan tergantung pada mereka," ujar Cowen. (qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads