Kondisi yang sama juga terjadi pada rupiah dimana menurut catatan BI, Rupiah pada pekan lalu bergerak sangat fluktuatif sebelum akhirnya ditutup pada level Rp 9.014 per dolar AS atau tetap melemah 48 pips dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.
"Tingginya volatilitas IHSG serta Rupiah pada pekan lalu sebagai dampak dari kuatnya perang sentimen antara Eropa, semenanjung Korea, dan Amerika yang terjadi di pasar," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (6/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai meredanya sentimen krisis utang Eropa dan perang di semanjung korea pada akhirnya meningkatkan risk Appetite investor global sehingga kembali berani masuk ke pasar," jelas Fikri.
Meningkatnya risk appetite investor juga didorong oleh sentimen positif yang datang dari Amerika, seperti melonjaknya pendapatan perusahaan retailer di Amerika selama liburan Thanksgiving serta meningkatnya pertumbuhan pekerjaan di sektor swasta Amerika yang mencapai level tertingginya dalam 3 tahun terakhir. Disamping itu laporan meningkatnya pertumbuhan sektor manufaktur dunia yang didorong oleh China dan Jerman pada pekan lalu juga menjadi trigger utama yang mendorong penguatan bursa saham diseluruh dunia.
Namun demikian, imbuh Fikri, banyaknya sentimen positif yang menghinggapi pasar pada sesi terakhir perdagangan pekan lalu tidak sepenuhnya manjamin bahwa investor dapat bernafas lega mengingat pada pekan lalu Departemen tenaga kerja Amerika mengumumkan bahwa angka pengangguran di Amerika pada bulan November secara mengejutkan meningkat menjadi 9,8% dari sebelumnya 9,6% atau yang tertinggi sejak tujuh bulan terakhir dan mencerminkan bahwa proses pemulihan ekonomi Amerika sejauh ini masih mengkhawatirkan.
Lebih lanjut, kondisi tersebut diluar prediksi pasar yang mengharapkan unemployment rate tetap berada pada level 9.6%. Sentimen negatif mengenai buruknya unemployment rate Amerika tersebut sepertinya akan tercermin dipasar pada sesi perdagangan pekan ini.
Fikri menjelaskan, sebagai trigger-nya, bursa saham dunia pekan ini masih akan menunggu beberapa indikator ekonomi dari Amerika yang akan dirilis pekan ini, seperti prediksi mengenai pertumbuhan sektor manufaktur dan servis di Amerika yang akan dirilis pada hari selasa, data sektor perumahan yang akan dirilis pada hari rabu serta data mengenai angka klaim pengangguran di Amerika yang akan dirilis pada hari kamis. Baik buruknya data indikator ekonomi dari Amerika tersebut akan menjadi pertimbangan investor global untuk masuk ke pasar dan juga akan menentukan arah pergerakan bursa saham Indonesia pada pekan ini.
"Setelah berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan pekan lalu, IHSG pekan ini diprediksi akan mencoba menembus level resistensi pertamanya di level 3.700, dimana apabila level tersebut dapat ditembus maka IHSG berpotensi untuk bergerak menguat. Namun demikian adanya libur tahun baru hijriyah pada hari selasa pekan ini akan mendorong investor untuk cenderung wait and see pada awal pekan ini sehingga IHSG diprediksi akan bergerak dalam volume tipis dan cenderung melemah pada hari ini," urainya.
NB: review tidak mencerminkan pandangan institusi
(qom/qom)











































