IHSG Pecah Rekor, Rupiah Stabil

Ulasan Sepekan

IHSG Pecah Rekor, Rupiah Stabil

- detikFinance
Senin, 13 Des 2010 07:04 WIB
Jakarta - Setelah menguat cukup tajam selama tiga hari perdagangan, IHSG pada akhirnya ditutup melemah 1% pada perdagangan jumat pekan lalu atau ditutup pada level 3747.7. Namun demikian apabila dibandingkan dengan penutupan pada pekan sebelumnya IHSG tercatat mampu menguat sebesar 1.39%.

Disisi lain, Rupiah bergerak cukup stabil selama perdagangan pekan lalu sebelum akhirnya ditutup pada angka Rp 9.015 per dolar AS.

"Pelemahan IHSG yang terjadi pada sesi perdagangan jumat pekan lalu semata-mata didorong oleh aksi profit taking investor setelah IHSG berhasil menembus level tertinggi barunya pada level 3788.57," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (13/12/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan dari bursa Amerika pada akhir perdagangan pekan lalu indeks S&P 500 berhasil ditutup pada level tertingginya sejak September 2008. Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya risk appetide investor seiring positifnya data-data indikator ekonomi Amerika beberapa pekan terakhir.
 
Fikri menjelaskan, selama pekan lalu bursa dunia dihiasi oleh berbagai sentimen positif seperti tanda-tanda proses pemulihan ekonomi Amerika yang semakin baik yang tercermin pada meningkatnya indeks kepercayaan konsumen Amerika pada bulan november, meningkatnya nilai import Amerika pada bulan November yang mencapai level terngginya pada tahun ini serta defisit neraca perdagangan Amerika pada bulan oktober yang mendekati target.

"Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong penguatan bursa saham Amerika pada awal perdagangan pekan lalu yang juga berimbas kepada bursa lainnya di dunia termasuk bursa saham Indonesia," ujarnya.

Sedangkan sentimen negatif yang menjadi trigger investor untuk melakukan aksi profit taking pada bursa saham Indonesia pada perdagangan jumat pekan lalu menurut Fikri adalah kekhawatiran data inflasi China yang mencapai level tertingginya dalam dua tahun terakhir sehingga dipercaya akan mendorong pemerintah China untuk kembali mengeluarkan kebijakan baru untuk menekan inflasi, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mendorong perlambatan ekonomi Asia.

Untuk pekan ini, Fikri memperkirakan sentimen dari Amerika masih akan menjadi motor penggerak investor untuk mengambil posisi dipasar. Beberapa data ekonomi yang dipercaya akan menjadi penggerak bursa pekan ini adalah data inflasi Amerika serta data mengenai indeks kepercayaan konsumen yang akan dirilis pada hari rabu pekan ini.

Pasar memprediksi inflasi di Amerika masih akan rendah sedangkan indeks kepercayaan konsumen pada bulan November diprediksi akan tumbuh positif. Bila realisasi data tersebut sesuai dengan prediksi pasar maka investor kembali akan mendapat sentimen positif untuk masuk ke pasar.

Sedangkan dari dalam negeri, investor akan melihat data mengenai potensi tingginya inflasi Indonesia bulan Desember ini, pemerintah melalui menteri keuangan menilai bahwa realisasi inflasi pada tahun 2010 akan melebihi target 6% yang ditetapkan akibat tingginya ancaman inflasi bulan desember ini. Kondisi tersebut tentu menghawatirkan investor.

Selain itu sentimen lainnya datang dari Moody’s Investor Service yang berencana untuk melakukan review sekaligus evaluasi sebagai bahan penilaian untuk menaikkan rating Indonesia masuk dalam investment grade. Output dari review Moody’s tersebut akan menjadi poin tersendiri bagi Ekonomi Indonesia dimata investor, terlebih apabila Indonesia nantinya benar-benar masuk dalam kategori Investment grade. Masuknya Indonesia dalam investment grade diyakini akan semakin meningkatkan perekonomian Indonesia. Sebab investor asing masih menjadikan rating yang dibuat oleh lembaga pemeringkat internasional tersebut sebagai acuan untuk menanamkan investasinya dalam jangka panjang.

"Melihat berbagai sentimen positif yang muncul, maka IHSG pada pekan ini dipredikasi akan bergerak pada teritori positif dengan mencoba menembus level 3750, bahkan tidak menutup kemungkinan IHSG pekan ini kembali akan mencatatkan level tertinggi barunya," papar Fikri.

Catatan: review tidak mencerminkan pandangan institusi

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads