"2011 bisa tumbuh konservatif 30% dari pencapaian sampai akhir tahun ini Rp 3 triliun. Tahun 2009 sekitar Rp 2,3 triliun," kataΒ Direktur Utama UNSP, Ambono Janurianto di Hotel Four Season, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (13/12/2010).
Sampai dengan triwulan III-2010, pendapatan perseroan mencapai Rp 1,896 triliun. Angka ini meningkat 15,5% dibandingkan dari tahun sebelumnya Rp 1,641 triliun. Bahkan laba kotor naik 65,2% dari Rp 474 miliar menjadi Rp 782,945 miliar. Namun laba bersih hanya naik tipis 2,9% menjadi Rp 245,307 miliar dari sebelumnya, Rp 238,315 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Turunnya produksi inti terutama disebabkan faktor cuaca, yaitu curah yang lebih tinggi dari level normal. Terutama di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan, sehingga menghambat aktivitas pemanenan dan pengangkutan hasil panen, serta menghambat jadwal aplikasi pupuk," paparnya.
Ia juga menyampaikan, UNSP telah menyiapkan dana investasi US$ 65 juta tahun depan untuk pengembangan kebun kelapa sawit, karet serta industri oleochemical. Khusus untuk oleochemical, perseroan akan mengoptimalkan start-up produksi secara komersial untuk pabrik Fatty Acid dan Glycerine pada 3-9 bulan mendatang.
"Total investasi oleochemical US$ 65 juta. Tahun ini (2010) US$ 25 juta. Sisa, US$ 40 juta tahun depan. Total capex US$ 65 juta tahun depan, untuk kebun dan oleo," ujarnya.
Sampai dengan saat ini perseroan telah merampungkan akuisisi 4 dari 6 perusahaan dalam aset Domba Mas. Sisa akuisisi, diharapkan tuntas dalam akhir tahun ini.
"Sudah semua, bayarnya. Tinggal dokumentasikan saja," paparnya.
Pada awal Desember 2010, stratup produksi untuk pabrik Fatty Acid sudah dimulai di Tanjung Morawa. Dimana produksi ini telah diekspor secara perdana pada 8 Desember 2010, dengan kuantitas Fatty Acid 500 ton, dan Glycerine 200 ton.
(wep/ang)











































