Meski agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) FREN beberapa waktu lalu sempat batal dilaksanakan akibat tidak quorum, Sinarmas meyakini pemegang saham FREN akan merestui aksi manajemen.
Demikian disampaikan Direktur Grup Sinarmas, Gandhi Sulistyanto kepada detikFinance, di Jakarta, Rabu (15/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dikabarkan sebelumnya, Mobile-8 tengah menjalankan aksi rights issue dengan menerbitkan saham baru sebanyak 74.072.026.868 lembar di harga Rp 50 per saham, dengan total dana Rp 3,703 triliun.
Yang menjadi standby buyer adalah PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), PT Wahana Inti Nusantara (WIN), dan PT Global Nusa Data (GND), di mana mereka merupakan pemegang saham pengendali di PT Smart Telecom.
Manajemen FREN memang sempat mengadendakan RUPSLB untuk meminta restu pemegang saham untuk melaksanakan rights issue tersebut, namun urung terlaksana karena tidak quorum.
"Tidak quorum jadi kita undur," kata Corporate Secretary FREN, Chris Taufik.
Dana hasil rights issue akan digunakan FREN untuk mengakuisisi 50% lebih saham Smart Telecom senilai Rp 3 triliun. Usai rights issue, ketiga anak usaha Sinarmas akan menjadi pengendali FREN. Sedangkan Smart Telecom akan dikuasai FREN lebih dari 50%.
Β
"Ini (rights issue) merupakan lanjutan dari join markerting FREN dan Smart. Nanti dengan penggabungan frekuensi, maka akan lebih memperbesar varian," tambah Gandhi.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Eddy Sugito pernah menyebut, aksi yang dilakukan manajeman FREN penting untuk menyelamatkan perusahaan. Harga penawaran Rp 50 per lembar, atau dibawah nilai nominal, Rp 100 per lembar, juga dianggap Eddy tidak menjadi soal.
"FREN ada going concern issue. Dalam peraturan kita (Rp 50) memungkinkan. Kalau tak diselamatin potensi tutup. Kita minta struktur, ada komitmen. Mereka sih komit (komitmen) untuk selesaikan kupon yang outstanding," tegas Eddy waktu itu.
(wep/dnl)











































