Aliran modal global ke negara-negara berkembang selama tahun 2009 hanya sebesar US$ 598 miliar (3,7% dari Gross National Income/GNI). Angka itu turun 20% dari aliran modal tahun 2008 yang mencapai US$ 744 miliar (4,5% GNI), dan hampir setengah dari tahun 2007 yang sempat mencapai US$ 1,11 triliun.
Demikian laporan terbaru mengenai 'Global Development Finance 2011: External Debt of Developing Countries' yang diluncurkan Bank Dunia dan dikutip detikFinance, Minggu (19/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan aliran kredit secara netto dari kreditor swasta turun hingga 70% dari US$ 182 miliar pada 2008 menjadi hanya US$ 59 miliar pada 2009. Hal itu dipicu oleh kolapsnya kredit bank komersial untuk jangka menengah kepada debitor negara ataupun swasta.
Β
Aliran modal bersih (utang dan hibah) dari negara-negara kreditor tercatat naik 50% menjadi US$ 171 miliar pada 2009, yang merefleksikan meningkatnya dukungan kepada negara-negara berkembang selama krisis. Hal ini dipicu oleh melonjaknya pencairan utang baru yang diperpanjang oleh institusi finansial internasional. Angkanya meningkat dari US$ 61 miliar di 2008 menjadi US$ 98 miliar pada 2009.
Untuk perbandingan negara, Eropa dan Asia Tengah merupakan wilayah yang paling terkena dampak kisis ekonomi glonal. Kombonasi utang dan aliran sahamnya anjlok hingga 66% selama 2009 yakni dari US$ 411 miliar (15,8% GNI) di 2007 menjadi hanya US$ 90 miliar di 2009 (3,6% GNI).
Asia Timur dan Pasifik mencatat aliran modal bersih yang lebih rendah yakni hanya 6% di 2009 menjadi US$ 167 miliar. Angka ini hampir sama dibandingkan tahun 2008 yakni sebesar 4,3% GNI.
(qom/qom)











































