Demikian hasil Macroeconomic Outlook 2011 PT Bank Mandiri Tbk yang disampaikan oleh Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Destri Damayanti di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (22/12/2010).
"Capital inflow masih akan mengalir cukup deras di tahun 2011 di mana akan masuk ke instrumen moneter dari ekspor serta Foreign Direct Investment. Oleh karena itu ruang untuk apresiasi rupiah masih ada di mana at the end of year akan berada di Rp 8.762/US$," ujar Destri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk menjaga penguatan yang tajam akibat inflow maka Bank Indonesia masih akan berada di pasar untuk melakukan intervensi. Namun ruang apresiasi masih akan ada sehingga rata-rata rupiah akan berada di kisaran Rp 8.819/US$," tuturnya.
Lebih jauh Destri mengatakan, defisit anggaran kebijakan BI yang telah disetujui DPR hingga Rp 45 triliun pada dasarnya digunakan untuk menjaga kestabilan nilai rupiah. Secara rata-rata Destri mengatakan bank sentral membayar sekitar US$ 2 miliar per bulan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar.
"Dana anggaran kebijakan itu masih akan cukup walau akan menggerus rasio modal BI. Tetapi itu bukan menjadi masalah karena telah ada UU BI di mana minimal ketentuan modal sebesar Rp 2 triliun," jelas Destri.
Selain itu, Destri memproyeksikan nilai tukar rupiah di akhir 2010 akan berada di sekitar Rp 8.972/US$ dan secara rata-rata sepanjang tahun akan berada di Rp 9.079/US$.
"Penguatan rupiah di Indonesia sampai November 2010 telah menguat sebesar 3,9%. Penguatan ini terjadi di semua negara emerging market yang berarti dolar melemah terhadap semua mata uang," tukasnya.
(dru/dnl)











































