Kementerian BUMN melihat prospek industri infrastruktur pendukung terutama semen di tahun 2011 akan cemerlang mengingat pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan akan lebih dari 6%.
"Berapa 'dagangan' kita ini semuanya baik, siapa sih yang tidak memerlukan pembangunan, pemerintah bisaΒ menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6% artinya ekonomi growth, pertumbuhan ada dan sudah pasti pembangunan ada. Pembangunan dibutuhkan disini kita bicara seperti semen karena infrastruktur akan tumbuh, di APBN saja belanja infrasturktur mencapai Rp 120 triliun," ujar Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi Achiran Pandu Djajanto, ketika berbincang dengan media di Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (28/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dan manufaktur telekomonikasi. Saat ini, lanjut Pandu, Kementerian BUMN masih melakukan kajian lebih jauh terhadap perusahaan-perusahaan plat merah dibidang tersebut.
"Dari sementara 4 bidang yang akan dilakukan privatisasi, yakni konstruksi, keuangan non bank, infrastruktur (pendukung), dan manufaktur telekomunikasi. Berdasarkan rapat pimpinan BUMN dilakukan kajian ulang bahwa 2011 memang ada beberapa rencana privatisasi yang sudah mendapatkan persetujuan baik dari stakeholder dan instansi terkait. Nah yang akan dioptimalkan nilai privatisasinya adalah PT Semen Baturaja (Persero)," paparnya.
Pandu memaparkan, industri semen saat ini sangat menarik dan segmented sekali mengenai produknya. Oleh sebab itu diperlukan kapitalisasi yang
sifatnya jangka panjang.
Jika bicara produk harus diimbangkan cakupan hasil produk yang mencukupi pasar. Dalam hal ini perlu kajian untuk
lebih memaksimalkan tentang produk yang harus dicapai terutama bagi PT Semen Baturaja," terangnya.
Lebih jauh Pandu mengatakan, perusahaan yang mempunyai potensi untuk IPO 2011 diharapkan dapat menghimpun dana diatas Rp 1 triliun. Hal ini
dikarenakan agar proses IPO lebih optimal dan tidak terkesan sia-sia.
"Kita ada kajian kalau mendapatkan Rp 300-400 miliar buat apa IPO kita cari maksimal sekali. Kalau bisa diatas Rp 1 triliun itu untuk optimalisasi nilai," kata Pandu.
(dru/hen)











































