Bapepam Keluarkan Surat Perintah Pemeriksaan Katarina

Bapepam Keluarkan Surat Perintah Pemeriksaan Katarina

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 03 Jan 2011 16:22 WIB
Bapepam Keluarkan Surat Perintah Pemeriksaan Katarina
Jakarta -

Indikasi penyelewengan perolehan dana Initial Public Offering (IPO) PT Katarina Utama Tbk (RINA) oleh manajemen telah masuk dalam pemeriksaan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Biro Pemeriksaan dan Penyidikan (PP).

Demikian disampaikan Kepala Biro PP, Sarjito saat ditemui usai pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Senin (3/1/2011).

"Seperint (Surat pemerintah) sudah keluar, tapi belum diperiksa. Ada indikasi realisasi penggunaan dana IPO, dan pelanggaran ketentuan peraturan pasar modal lainnya," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun kembali, Sarjito bungkam terhadap kelanjutan pemeriksaan. "Kami akan terus periksa. Hasilnya jangan dulu disampaikan," tutur Sarjito.

Berdasarkan dokumen yang diterima detikFinance, Direktur Utama PT Katarina Utama Tbk (RINA) Fazli Zainal Abidin telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Fazli sendiri merupakan pewakilan pemegang saham mayoritas RINA saat ini, dimana pengunduran diri tersebut harus mendapat persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB.

Fazli Bin Zainal Abidin, pria berkewarganegaraan Malaysia, kelahiran Selangor, mengaku kesehatannya memburuk akibat penyakit hipertensi yang ia derita. Karena alasan kesehatan, Fazli khawatir tidak dapat melakukan tugas sebagai Direktur Utama Perseroan dengan sebaik-baiknya.

Dalam dokumen tersebut disebutkan, Fazli efektif mengundurkan diri pada 10 Januari 2011, setelah permohonan resign diajukan pada 10 Desember 2010 lalu. "Pada saat ini saya menderita hipertensi berat disertai dengan diabetes yang sudah diderita cukup lama," berikut kutipan surat pengunduran diri Fazli.

Forum Komunikasi Pekerja Katarina (FKPK) sebagai organisasi serikat pekerja RINA mengakui telah mendengar kabar tersebut. Menurut Dewan Penasihat FKPK, Massa Karya Ginting, pengunduran diri Fazli merupakan siasat seolah-olah akan terjadi pergantian pemegang saham mayoritas, dari Fazli ke investor strategis lain. Namun sejatinya, investor baru tersebut merupakan kelompok Fazli juga.

Saat ini, manajeman RINA tengah mengagendakan RUPSLB secara diam-diam untuk meminta persetujuan dari pemegang saham atas pengunduran diri Fazli. "Kabar yang kami terima, mereka akan agendakan RUPSLB di bulan Januari-Februari awal. Di Jakarta juga, tapi diam-diam," kata Massa.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito mengaku belum mendengar kabar tersebut. Pihaknya belum lagi berkomunikasi dengan manajemen RINA, usai laporan penyimpangan penggunaan dana IPO, serta manipulasi laporan keuangan perseroan.

BEI siap memberi ultimatum kepada Fazli sebagai perwakilan pemegang saham mayoritas, untuk memberi informasi kepada otoritas bursa setiap akan menjalankan aksi korporasi.

"Mereka sama sekali belum komunikasi hal itu dengan mereka. Jika ini benar (pengunduran diri Fazli) kan harus melalui RUPSLB dulu. Kami meminta tidak ada transfer saham ke pihak lain, perubahan manajemen yang signifikan pengaruhnya. Kami minta mereka diskusi dengan Bursa," kata Eddy waktu itu.

"Kami telah menemui banyak pelanggaran. Indikasinya cukup besar. Juga ada perubahan operasional dalam kurun waktu 1 tahun setelah IPO, serta penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh manajemen perusahaan," imbuh Eddy.

Seperti diketahui manajemen Katarina Utama yang seluruhnya ekspatriat asal Malaysia diduga telah menyelewengkan perolehan dana IPO, penggelembungan aset serta memanipulasi laporan keuangan auditan 2009. Dari perolehan dana IPO sebesar Rp 33,6 miliar, manajemen diduga menggelapkan sebesar Rp 29,6 miliar.

Akibatnya, kas perusahaan pun bolong dan manajemen tidak dapat menyelesaikan kewajiban kepada karyawan. Saat ini, hampir seluruh kegiatan operasi Katarina Utama berhenti, sehingga tidak ada pemasukan. BEI pun siap mengeluarkan opsi penghapusan pencatatan saham secara sukarela (voluntary delisting).

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads