Khawatir BI Rate Naik, Obligasi Korporasi Masih 'Malu-Malu' di 2011

Khawatir BI Rate Naik, Obligasi Korporasi Masih 'Malu-Malu' di 2011

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Selasa, 04 Jan 2011 15:07 WIB
Jakarta - Masih banyak perusahaan atau korporasi yang menahan diri dalam menerbitan obligasi di tahun 2011, meskipun nilainya masih tetap tumbuh. Kekhawatiran kenaikan suku bunga acuan alias BI Rate menjadi faktor 'malu-malu' perusahaan menerbitkan surat utang.

Menurut Senior Vice President Investment Banking PT Henan Putihrai, Eban S. Banowo, meskipun Bank Indonesia (BI) sepanjang tahun lalu tetap menahan BI Rate di kisaran 6,5%, namun potensi kenaikan suku bunga tetap bisa terjadi tahun 2011. Jika benar kenaikan suku bunga terealisasi, maka nilai obligasi berpotensi turun.

"Investor menganggap saat masuk (instrumen obligasi), di bunga yang saat ini dan ternyata (suku bunga) naik, kan harganya (obligasi) turun. Padahal perusahaan harus placement baru, kan ada yang jatuh tempo. Kalau obligasi pemerintah, SUN atau ORI kan terbatas. Akhirnya corporate bond jadi malu-malu," jelas Eban saat dihubungi wartawan, Selasa (4/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepanjang tahun 2010, penerbitan emisi obligasi mencapai Rp 35,897 triliun. Angka ini meningkat 31,9% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya, Rp 27,215 triliun.

Total emiten yang menerbitkan obligasi tahun ini mencapai 25 perusahaan. Bandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 27 perusahaan. Namun nilai penerbitan obligasi justru meningkat 31,9% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya Rp 27,215 triliun.

Nah, sepanjang 2011 jumlah emisi kemungkinan tetap bertumbuh seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus melaju. Kekhawatiran kenaikan suku bunga hanya menjadi peringatan akan penyerapan surat utang obligasi oleh investor.

Perusahaan pembiayaan (multifinance) dan perbankan masih menjadi langganan penerbitan obligasi tahun 2011. Pasalnya dalam mengelola perusahaan, mereka mengandalkan penerbitan obligasi.

"Harusnya sih kalau ada demand, obligasi yang terbagus. Perusahaan juga membutuhkan ekspansi. Nama-mana perusahaan multifinance dan bank, darahnya memang dari utang. Sektor riil harusnya membutuhkan (penerbitan obligasi) juga. Namun mereka menunggu, seolah-olah suku bunga akan naik, meski BI bertahan di 6,5%," ucapnya.

Instrumen penerbitan obligasi menjadi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah, 6,4%. "Ekonomi harus terus growth. Seperti Singapura yang mencapai pertumbuhan 12%, yang diluar dugaan. Artinya Singapura sudah mengalami perbaikan keadaan dibanding 2008-2009," imbuh Eban.

(wep/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads