Seperti diketahui, investor setiap memasuki awal tahun akan membicarakan mengenai January Effect, suatu fenomena kenaikan harga saham di mata investor yang terjadi setiap awal tahun atau tepatnya dibulan Januari.
"Fenomena January Effect di mata investor tersebut muncul seiring dengan optimisme investor terhadap kinerja emiten di bursa saham di setiap awal tahun dimana setiap emiten akan menetapkan target laba yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Muhammad Fikri, STP,MBA analis PT BNI Persero tbk, dalam reviewnya, Senin (10/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Justru selama bulan Desember IHSG mempunyai kinerja yang positif, dimana dalam 10 tahun terakhir selama bulan Desember IHSG selalu mencatatkan kenaikan," jelas Fikri.
Pertanyaannya apakah pada tahun ini Januari effek akan terjadi?
Fikri menjelaskan, berkaca pada pergerakan IHSG pekan lalu yang bergerak sangat fluktuatif, dimana setelah sempat menyentuh level tertinggi baru di hari rabu, IHSG kemudian ditutup anjlok dalam dua hari berturut-turut.
Penurunan yang signifikan pada IHSG tersebut didorong oleh aksi jual masif investor asing terhadap saham-saham dihampir semua sektor industri khususnya pada saham-saham yang telah mengalami kenaikan sangat signifikan selama tahun 2010 seperti saham perbankan, lebih lanjut investor asing tercatat membukukan penjualan bersih senilai Rp. 1,5 Triliun.
Aksi jual investor asing itu sendiri dipicu oleh sentimen negatif dari Amerika dimana data pertumbuhan pekerjaan Amerika masih tumbuh lambat diluar ekspektasi pasar, kondisi tersebut diperparah oleh pernyataan presiden the Fed bahwa bursa pekerjaan Amerika memerlukan waktu empat hingga lima tahun untuk dapat pulih norma. Seperti diketahui hingga awal 2011 ini angka pengangguran di Amerika masih tinggi yaitu sebesar 9.8% dari total angkatan kerja di Amerika. Namun demikian penurunan yang terjadi pada IHSG masih dinilai wajar sebagai bagian dari aksi profit taking investor.
Lebih lanjut, Fikri memaparkan, di awal tahun 2011 ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat menjadi pemicu terjadinya January Effect.
Yang pertama, tentunya adalah capital inflow sebagai dampak dari kebijakan Quantitative Easing the Fed, Seperti diketahui bahwa pada akhir 2010 lalu the Fed mengucurkan stimulus sebesar US$ 600 Milliar atau setara dengan Rp 5400 Triliun ke pasar untuk menggerakkan ekonomi Amerika. Stimulus tersebut dipercaya akan mendorong terjadinya capital inflow ke Indonesia dan menjadi pemicu penguatan IHSG pada tahun 2011 ini.
Perlu diketahui bahwa kebijakan stimulus tersebut bukan yang pertama dilakukan the Fed, dimana sebelumnya pada tahun 2009 the Fed telah menggelontorkan US$ 1,2 Triliun ke pasar yang memicu capital inflow ke Indonesia karena imbal hasil investasi di Indonesia yang lebih tinggi dan pada akhirnya mendorong penguatan signifikan terhadap IHSG selama tahun 2010.
Yang kedua adalah ekspektasi masuknya Indonesia ke rating Investment Grade pada tahun ini mengingat hampir semua Institusi keuangan internasional memprediksikan ekonomi Indonesia masih akan tumbuh signifikan tahun ini. Tanda-tanda akan ditingkatkannya rating Indonesia mencuat setelah the Moody’s Investor Service menaikan rating perbankan Indonesia akhir tahun lalu, hal tersebut dipercaya akan diikuti oleh peningkatan rating ekonomi Indonesia. Masuknya Indonesia dalam rating investment grade diyakini akan menjadi pemicu kenaikan IHSG tahun 2011.
Yang terakhir adalah terus membaiknya harga komoditas dunia, dimana harga minyak dunia terus naik mendekati level US$ 90 per barel nya, penguatan harga komoditas dipercaya akan mendorong penguatan IHSG seperti yang pernah terjadi pada tahun 2007 lalu. Seperti diketahui bahwa banyak emiten di bursa Indonesia berbasis komoditas, sehingga kenaikan harga komoditas akan mendorong penguatan saham emiten tersebut dan pada akhirnya mendorong penguatan IHSG.
"Pada akhirnya peluang terjadinya kenaikan IHSG untuk tahun 2011 ini masih sangat terbuka, bahkan target level 4000 untuk IHSG pada kuarter pertama 2011 ini bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dicapai melihat potensi ekonomi Indonesia yang masih terus tumbuh. Tingginya optimisme terhadap ekonomi Indonesia ini pada akhirnya dipercaya akan menjadi pemicu terjadinya January Effect tahun ini. Namun demikian untuk pekan ini IHSG masih dibayangi profit taking investor asing dan IHSG diprediksi masih akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah," urainya.
NB: Review tidak mencerminkan pandangan institusi
(qom/qom)











































