Demikian disampaikan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Wan Wei Yiong dalam pesan singkat yang diterima detikFinance di Jakarta, Senin (10/1/2011).
Ia menegaskan, IHSG yang terpuruk merupakan gejala sesaat. Apalagi di setiap awal tahun investor kerap menata ulang portofolio bisnisnya. Investor juga tengah melakukan aksi ambil untung (profit taking) usai sepanjang tahun lalu IHSG mencatat peningkatan 46%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanda-tanda penurunan IHSG telah terjadi sejak Kamis (6/1/2011) pekan lalu dan terus terjadi hingga sesi II hari ini. Pada Kamis pekan lalu, IHSG turun 47,452 poin (1,25%) ke level 3.736,257. Satu hari menjelang indeks kembali anjlok 104,804 poin (2,81%) ke level 3.631,453.
Pada perdagangan hari ini, awal perdagangan IHSG kembali terpuruk 22,311 poin (0,62%) ke level 3.605,142. Pelemahan ini semakin membawa indeks jatuh sangat dalam dan kembali ke level 3.500.
Di sesi I IHSG anjlok 145,935 poin (4,02%) ke level 3.485,518 dan pada penutupan perdagangan pukul 16.00 lalu, indeks akhirnya terpaku di level 3.478,549, turun 152,904 poin (4,22%).
Menteri Keuangan RI, Agus Martowardojo juga menegaskan terpuruknya IHSG dikarenakan kekhawatiran pasar pada sentimen inflasi, Namun, Agus memprediksi sentimen itu hanya sesaat karena secara mendasar inflasi inti (core inflation) Indonesia tak terlalu mengkhawatirkan.
Tingginya tingkat kekhawatiran investor terhadap besaran inflasi di bulan Januari 2011 ini membuat bursa saham tertekan. Banyak sekali sentimen negatif yang diperkirakan akan memicu besaran inflasi.
Faktor-faktor yang menjadi kekhawatiran investor sehingga diperkirakan akan mendorong laju inflasi diantaranya tingginya inflasi Desember 2010 dan tidak diimbangi dengan peningkatan BI Rate. Selain itu terus menguatnya harga minyak dunia dan harga komoditas dan pemberlakuan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) industri secara penuh oleh pemerintah juga menjadi sentimen negatif.
(wep/ang)











































