Obligasi Rp 3 Triliun Siap Meluncur di Triwulan I-2011

Obligasi Rp 3 Triliun Siap Meluncur di Triwulan I-2011

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Selasa, 11 Jan 2011 14:40 WIB
Jakarta - Penerbitan surat utang obligasi sepanjang triwulan I-2011 diprediksi mencapai nilai Rp 3 triliun. Jika dimasukkan dengan obligasi yang akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai penerbitan obligasi mencapai Rp 7 triliun.

Demikian disampaikan Direktur Pefindo, Salyadi Saputra di kantornya, Jalan HR Rasuna Said Jakarta, Selasa (11/1/2011).

"Yang dimandatkan ke kita senilai Rp 3 triliun. Belum bisa disampaikan siapa. Sampai dengan first quarter ya," jelasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Obligasi baru yang terbit di awal tahun 2011 tersebut berasal dari 4 perusahaan yang juga diperingkat oleh Pefindo. Mereka diantaranya perusahaan pembiayaan dan perbankan, seperti dikabarkan pasar adalah Bank Jabar Banten dan Astra Sedaya Finance dan FIF Finance.

Sedangkan penerbitan obligasi di akhir tahun lalu, dan akan dicatatkan awal 2011 mencapai Rp 4 triliun. Mereka diantaranya obligasi Danareksa (Persero),  Surya Artha Nusantara Finance (SUN Finance) dan Bank Nagari.

"Jadi total yang ada di kita mencapai Rp 7 triliun," tambahnya.

Seperti diketahui, total penerbitan surat utang obligasi tahun 2010 mencapai  Rp 35,897 triliun. Angka ini meningkat 31,9% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya, Rp 27,215 triliun.  Penerbitan surat utang obligasi terbesar milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Lembaga Pembiayaan Ekspor (LPEI), dengan nilai masing-masing Rp 3 triliun.

Sedangkan pada tahun, nilai obligasi akan tumbuh seiring dengan peningkatan ekonomi Indonesia. Namun, perusahaan yang akan menerbitkan surat utang (issuer) masih diselimuti kekhawatiran akan peningkatan suku bunga Bank Indonesia (SBI), seiring dengan angka inflasi tahunan 2010 yang mencatat 6,96%.

"Inflasi (naik) 1-2% akan merubah peta penerbitan obligasi," kata Direktur Compliance Pefindo, Yose Rizal.

Bergesernya pemetaan, karena issuer masih wait and see dalam penerbitan surat utang tersebut. Dengan potensi inflasi yang meningkat, diiringi naiknya SBI, tentu akan menekan yield obligasi.

"Investor kan minta yield yang jauh lebih besar karena SBI naik. Namun pengaruh hanya bersifat sementara, 3 bulan," jelas Yose.

Selanjutnya, pengaruh akan mereda dan netral. Tinggal bagaimana keputusan akhir issuer, apakah tetap menerbitkan obligasi dengan risiko terbaru atau lebih memilih pinjaman perbankan.

"Rata-rata kupon obligasi memang jauh lebih rendah dibanding borrowing rate. Masalahnya nanti siapa yang mau beli, tentu (bunga) emiten akan lebih murah," tuturnya.

"Impact tidak besar, kareana PDB Indonesia masih baik. Ekspansi korporasi melalui penerbitan obligasi masih terus berlangsung selama SBi berada di level 7%," pungkas Yose.

(wep/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads