Demikian disampaikan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar di Hotel Ritz Calton Millenia, Singapura, Jumat (14/1/2011).
"Kami mencari profil investor yang long term. Adanya roadshow ini kami bertemu dengan calon investor. Tidak hanya baca prospektus. Mereka ingin kenal manajemen dan mereka mengajukan pertanyaan yang tajam," jelas Emir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka menganalisa. Historical potensial, dan yang penting mereka tertarik. Kisaran harga sudah tahu, namun tidak sama sekali dibahas. Tentu mereka akan lakukan valuasi," ucapnya.
Hari ini, menurut jadwal kembali manajeman Garuda melakukan pertemuan dengan 14 institusi finansial. Kemudian road show dilanjutkan ke negara Hongkong pada tanggal 16-18 Januari 2010. Lalu, London, Inggris, serta New York, dan Boston, AS.
"Akan ada pertemuan dengan 5-7 investor institusi dalam breakfast meeting. Kemudian dilanjutkan dengan one-o-one, 7 investor," papar Direktur Keuangan, Elisa Lumbantoruan.
Emir menambahkan, manajeman Garuda, berserta para penjamin emisi (underwriter) belum dapat memastikan apakah akan menawarkan saham lebih banyak ke investor domestik, seperti keinginan Menteri BUMN, Mustafa Abubakar 70-80% dijatahkan untuk lokal.
"Penjatahan baru benar-benar diketahui setelah bookbuilding. Kan kita juga ada (roadshow) di dalam negeri. Belum keliatan," tegas Emir.
Mustafa memang mengharapkan saham baru Garuda yang ditawarkan, diprioritaskan kepada investor domestik, dengan porsi 70-80%. Ini berarti, investor lokal dimungkinkan memiliki saham maksimal 5,94 miliar lembar. Sisanya diperebutkan strategic investor asing, atau hanya 1,485 miliar lembar.
Garuda sendiri menawarkan total saham perdana sebanyak 9.362.429.500 lembar. Dimana, sebanyak 7.426.691.500 saham baru merupakan saham seri B dan dikeluarkan dari portepel perseroan, dgn nilai nominal Rp 500. Sisanya, 1.935.738.000 lembar diambil dari saham seri B dan pada saat listing menjadi milik Bank Mandiri.
Jumlah saham yang ditawarkan setara dengan 36,48% dari total modal ditempatkan dan disetor, dengan target dana berkisar Rp 4-5 triliun. Bertindak sebagai penjamin emisi adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities.
(wep/qom)











































