Demikian disampaikan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Wan Wei Yiong kepada detikFinace, Rabu (19/1/2011).
"Sudah teratasi, atas power supply yang putus sudah diganti. Tadi teknisi kita lihat, langsung disalurkan listrik ke yang lain," ungkap Yiong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pada pukul 15.46 sistem datafeed yang merupakan pendukung perdagangan tidak berjalan baik. Ini menjadikan para Data Provider yang menyediakan informasi harga saham secara realtime tidak menerima data perdagangan.
"Kondisi ini tidak menganggu aktivitas perdagangan yang dilakukan Anggota Bursa (AB), karena AB tetap dapat menerima informasi harga saham melalui sistem remote trading," jelas BEI dalam keterangan tertulisnya.
Seperti diketahui, sistem informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhenti sejak pukul 15.46.45 waktu JATS. Saat itu indeks berada pada posisi 3.517,275, melemah 31,374 poin (0,89%). Dan pada penutupan perdagangan pukul 16.00, pelemahan hanya 14,36 poin (0,40%) ke level 3.534,284. Indeks LQ 45 melemah 2,58 poin ke level 621,74.
Pelaku pasar pun mengungkapkan, dengan matinya sistem datafeed 4 menit sebelum closing perdagangan, mereka menderita kerugian. Pasalnya, terjadi potensi gagal transaksi dari nasabah masing-masing sekuritas (AB) dengan kisaran Rp 5 miliar.
"Potensi gagal transaksi bisa capai Rp 5 miliar menjelang 15 menit penutupan," tutur Analis Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman.
Mulai perdagangan Kamis (20/1/2011) depan, dipastikan berjalan normal. Investor pun dapat kembali memantau data pergerakan saham secara realtime. "Sampai malam ini, kita terus lakukan tes power supply untuk memastikan besok (perjalanan) berjalan," ucap Yiong.
(wep/ang)











































