Menurut Analis pasar modal David Ferdinandus, isu iklim yang tidak menentu yang berdampak terhadap realisasi produksi pangan dan komoditi mendorong
pelaku pasar wait and see. Terlebih banyak faktor dalam negeri yang semakin mempertegas investasi portofolio untuk sementara 'lari' dari Indonesia.
"Banyak yang bilang masih suram, tentu kita perhatikan. Apalagi data awal kuartal I dalam Januari, Februari, Maret, baru akan respon pada April. Tiga
bulan ini akan terlihat fundamental utamanya kinerja emiten," katanya kepada detikFinance, Minggu (23//1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
iklim tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh belahan dunia lain.
Iklim tentu berpengaruh kepada inflasi yang diprediksi meningkat dan diikuti oleh naiknya suku bunga perbankan (SBI). Ini menjadi perhatian serius pelaku
pasar.
"Indeks kita tahun lalu sudah naik 50%, sementara negara lain belum sebesar itu. Ini mengakibatkan, secara itung-itungan (IHSG) jadi mahal. Mending
taruh (investasi portofolio) ke yang lain. Ini jadi pilihan asing," paparnya.
Keluarnya modal asing terlihat sejak pertengahan pekan ini. Penutupan perdagangan Jumat (21/1/2011), IHSG jatuh 74,575 poin (2,16%) ke level
3.379,543. Tercatat investor asing melakukan penjualan saham bersih sebanyak Rp 1,03 triliun di seluruh pasar.
"2010 (IHSG) relatif lebih menarik, harusnya 2011 bisa berlanjut namun faktor-faktor tadi menjadikan asing banyak keluar," ucap David.
Faktor politik, yang hangat diperbincangkan di media nasional juga menjadi perhatian pelaku pasar. Mereka menunggu akibat apa yang terjadi atas kebijakan pemerintah, seperti penghapusan BBM bersubsidi.
"Politik bermain, dari dalam negeri dengan penghapusan itu, dalam 3 bulan pengaruhnya kepada inflasi. Daya beli masyarakat juga. Memang ada valuasi yang cukup bagus, tapi secara makro kelihatannya kondisi kurang bergairah, khususnya pangan dan daya beli," tuturnya.
Pada awal pekan, pelemahan Indeks diprediksi tetap terjadi meskipun secara sesaat potensi rebound tetap ada, mengingat koreksi cukup dalam atas IHSG pada
Kamis dan Jumat lalu. Faktor laporan kinerja tahunan dari para emiten, menjadi peredam melemahnya Indeks pekan depan.
"Positifnya akan menahan, pelaku pasar melihat kondisi yang lebih baik untuk kinerja 2010. Khususnya respon pada perusahaan yang membagikan dividen. Itu yang jadi pilihan, lihat seberapa besar yield-nya," imbuh David.
(wep/hen)











































