"Ancaman tingginya inflasi bulan ini pada akhirnya benar-benar menjadi pemicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terjadinya bubble ekonomi khususnya di negara-negara yang bursa sahamnya menguat sangat signifikan," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (24/1/2011).
Kondisi ini menurut Fikri, didukung oleh pernyataan Gubernur BI bahwa secara umum pasar global saat ini sedang khawatir terhadap inflasi. Oleh karena itu, akan ada bubble di negara-negara tertentu yang indeks sahamnya sudah mengalami kenaikan tajam dalam waktu tidak lama sehingga akan mendorong masing-masing negara untuk mengambil langkah antisipatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut, lanjut dia, pada akhirnya akan diikuti oleh meningkatnya suku bunga kredit sehingga biaya dana perbankan menjadi lebih mahal dan tentunya dikhawatirkan dapat mengurangi pendapatan perusahaan. Dampak tersebuk menjadi pemicu investor asing untuk sementara keluar dari bursa saham Indonesia dan mengambil posisi wait and see.
Kondisi tersebut diperparah oleh sentimen dari China, dimana China kembali diperkirakan akan memperketat sistem moneternya seperti menaikan GWM (Giro Wajib Minimum) dan suku bunga untuk mencegah ekonominya terlalu panas. Seperti diketahui bahwa melambungnya data Gross Domestic Product (GDP) China pada tahun 2010 yang mencapai 10,3% dari 9,2% di 2009 menggambarkan bahwa kondisi ekonomi china tersebut sudah overheating. Hingga saat ini China merupakan negara tujuan ekspor utama dunia, khususnya komoditas, sehingga perlambatan ekonomi akan mendorong melemahnya permintaan komoditas di dunia. Investor khawatir kondisi tersebut akan mempengaruhi kinerja perusahaan-perusahaan berbasis ekspor di dunia.
Namun demikian, imbuh Fikri, dari Amerika dikabarkan bahwa ekonomi Amerika pada kuarter ke empat 2010 diprediksi tumbuh lebih cepat dari perkiraan. GDP Amerika diprediksi tumbuh 3,5% pada kuarter ke empat, meningkat dibandingkan level 2,6% pada kuarter ketiga 2010. Peningkatan GDP tersebut didorong oleh tingginya angka belanja konsumen Amerika pada akhir tahun 2010, dimana tercatat angka belanja konsumen Amerika tersebut merupakan yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Sentimen tersebut pada akhirnya memicu penguatan pada bursa saham Amerika pada sesi terakhir perdagangan pekan lalu.
Untuk minggu ini, ada beberapa sentimen yang dapat menjadi penggerak bursa saham Indonesia, antara lain adalah aksi korporasi dua BUMN yaitu penetapan harga right issue saham bank Mandiri serta rencana IPO Garuda pada awal bulan februari. Bersama sentimen positif dari Amerika, Fikri meyakini aksi korporasi Bank mandiri dan Garuda tersebut diharapkan dapat mendorong atraktifnya pasar saham pekan ini.
"Namun demikian bayang-bayang naiknya BI rate pada awal bulan depan dapat menjadi sentimen negatif yang menekan pergerakan bursa saham Indonesia pekan ini. oleh karena itu IHSG pada pekan ini diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat," tambahnya.
NB: review tidak mencerminkan pandangan institusi
(qom/qom)











































