Demikian disampaikan oleh Menteri BUMN Mustafa Abubakar di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (26/1/2011).
"Jadi sisanya akan diambil investor asing, kita serahkan ke underwriter," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini yang kita harus antisipasi, agar saham-saham kita menjadi tidak murah," tambah Mustafa.
Sepanjang hasil roadshow yang telah dijalani perseroan, disimpulkan investor global melihat Garuda memiliki prospek yang bagus.
"Story excellent dan prospek bagus untuk yang akan datang. Yang dibutuhkan Garuda adalah modal," ucapnya.
Semula pemerintah menargetkan melepas 30% saham Garuda dalam IPO tersebut. Namun akhirnya penawaran saham publik diturunkan menjadi 26%.
"Saham yang dilepas menjadi 26%. Sisanya sebesar 4% tidak perlu dengan disesuaikan dengan kebutuhan Garuda," tuturnya.
Garuda melepas saham baru sebanyak 6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana.
Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk Bank Mandiri Rp 1,451 triliun.
(wep/dnl)











































