Analis pasar modal, Adler Manurung menilai pemerintah selalu memasang target murah pada setiap agenda privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Harga kemurahan. Target pemerintah murah-murah semua. Sepertinya lagi memperbaiki BUMN-BUMN kita. (Bank) Mandiri aja (right sissue) Rp 5.000," jelas Adler saat dihubungi detikFinance, Kamis (27/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan aksi 2 penawaran saham sekaligus, yakni IPO Garuda serta right issue Bank Mandiri tentu investor terlebih dahulu akan memfokuskan perhatiannya kepada BUMN perbankan. Mereka harus memastikan mendapat saham right issue BMRI karena jumlahnya terbatas.
Sebagai perbandingan, Garuda melepas 6,335 miliar lembar, sedangkan Bank Mandiri melepas 2.336.838.591 saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).
"Perhatian dan dana investor diarahkan ke Mandiri. Karena Mandiri pasti dapat windfall profit sebesar Rp 1,5 triliun. Investor takut nggak dapat (saham) Mandiri," ucapnya.
Namun setelah itu, investor dipastikan baru akan fokus pada saham Garuda. Adler meyakini saham Garuda akan diburu investor karena secara jangka panjang menarik.
"Minggu depan mereka sudah berbalik perhatiannya ke Garuda, dimana Garuda tidak memiliki pembanding dalam airlines, dengan domestik memiliki kontribusi terbesar. Sementara SQ, Cathay, Qantas tidak memiliknya. Jadi long term pasti menarik," kata Adler.
Murahnya saham Garuda juga disampaikan Kepala Riset Recapital Securities, Pardomuan Sihombing. Bahkan dia menilai harga wajar Garuda sebesar Rp 1.000 per lembar.
"Murah. Seharusnya investor mengakumulasi saham Garuda karena harga wajarnya Rp 1.000," ujarnya.
Pengalokasian lebih besar untuk investor lokal, atas saham perdana Garuda sudah tepat. Domestik memang harus diprioritaskan. "Harga wajar Rp 1.000 juga dengan membandingkan perusahaan airlines di regional. Pendekatan valuasi yang dipakai EV/EBITDA di regional rata-rata 7,4 kali," imbuh Pardomuan.
Garuda melepas saham baru sebanyak 6,33 miliar lembar atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Porsi ini didiskon dari target semula 30%.
Pemerintah telah menetapkan harga IPO Garuda Rp 750 per lembar. Dengan demikian, total dana yang didapat mencapai Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar.
Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun. Bertindak sebagai penjamin emisi adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities. Saham yang dilepas ini sudah termasuk saham PT Bank Mandiri Tbk di Garuda 10%
(wep/qom)











































