Demikian disampaikan Analis Batavia Prosperindo Sekuritas Billy Budiman dalam perbincangan kepada detikFinance di Jakarta, Kamis (27/1/2011).
"Investor asing saya rasa tidak terlalu berminat dengan saham Garuda, sebab bisnis penerbangan di Indonesia cukup ketat dan banyak pesaingnya. Lagi pula sektor penerbangan prospek tidak secerah komoditas dan consumer," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kabar yang berkembang di pasar justru sebaliknya. Investor lokal justru merasa kaget dengan penjatahan yang lebih. Lokal masih diselimuti kekhawatiran saham IPO Garuda akan turun, seperti listing sebelumnya, PT Megapolitan Development Tbk (EMDE) dan PT Martina Berto Tbk (MBTO).
"Banyak laporan mereka kaget dapat 50% jatah yang mereka pesan. Mereka takut Garuda tidak laku dan nanti pas listing bisa turun," paparnya.
Pemerintah telah menetapkan harga IPO Garuda Rp 750, atau batas terbawah dari kisarah harga Rp 750-Rp 1.000 yang ditetapkan pemerintah sebelumnya. Garuda melepas saham baru sebanyak 6,33 miliar lembar atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Porsi ini didiskon dari target semula 30%. Dengan demikian, total dana yang didapat mencapai Rp 4,751 triliun.
Pemerintah beralasan karena kebutuhan dana BUMN Aviasi ini hanya Rp 3,3 triliun, hingga pemangkasan menjadi sesuatu yang lumrah. Namun Billy mencurigai bahwa terpangkasnya turunnya porsi saham IPO, karena hasil roadshow beberapa waktu lalu tidak terlalu sukses seperti KS.
Harga IPO Garuda Rp 750 per lembar, dianggap Billy juga cukup ideal. "Apalagi saat ini market masih berbau bearish. Jadi bisa saja Garuda dilepas murah agar diserap lebih optimal oleh pasar," tegasnya.
Penjualan saham Garuda usai listing di 11 Februari 2011 diperkirakan tidak terjadi seperti KRAS. "Kemungkinan besar saham Garuda tidak akan naik seperti KRAS dahulu. Sebab KRAS didominasi asing. Lagipula tahun ini performance IPO-IPO tidak begitu baik," pungkasnya.
(wep/qom)











































