"Keputusan tersebut didasarkan atas kenaikan risiko politik yang signifikan baru-baru ini di Mesir," jelas Moody's dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Senin (31/1/2011).
Moody's juga mengkhawatirkan masalah sosio ekonomi negara tersebut, termasuk tingginya pengangguran, melonjaknya inflasi dan meningkatnya kemiskinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Krisis di Mesir tersebut sejauh ini juga telah mengguncang pasar finansial global. Investor khawatir kerusuhan di Mesir tersebut bisa menyebar ke negara-negara tetangga sehingga bisa membahayakan stabilitas di Timur Tengah yang merupakan penghasil minyak utama dunia.
Pada perdagangan Senin (31/1/2011), harga minyak tercatat kembali naik. Harga minyak light sweet pengiriman Maret naik 16 sen menjadi US$ 89,5 per barel, sementara minyak Brent naik 13 sen menjadi US$ 99,55 per barel.
Bursa-bursa Asia Pasifik pada awal pekan ini juga merosot, kecuali bursa China yang menguat berkat kenaikan harga saham-saham perusahaan minyak dan emas.
- Indeks Nikkei-225 turun 122,42 poin (1,18%) ke level 10.237,92.
- Indeks S&P/ASX melemah 21 poin (0,44%) ke level 4.753,9.
- Indeks Hang Seng turun 169,68 poin (0,72%) ke level 23.447,34.
- Indeks Komposit Shanghai naik tipis 37,94 poin (1,38%) ke level 2.790,69.
"Investor melepas euro untuk menutup posisi mereka, sementara mata uang yang aman seperti franc Swiss secara temporer menarik pembelian," jelas Gen Kawabe, analis dari Chuo Mitsui Trust and Banking.
"Investor mencermati risiko-risiko yang dapat meningkat karena situasi di Timur Tengah menjadi semakin rumit. Pasar sepertinya menunjukkan pergerakan yang bergejolak, digoyang oleh sentimen risiko seperti itu," tegas Kawabe. (qom/dnl)











































